Distibutor Vimax Extender

Cerita Seks Dewasa: Ino, Sebuah Penyesalan (Perselingkuhan)

Koleksi Cerita Seks Dewasa Terbaru 2016

Cerita Seks Dewasa Terbaru 2016
Cerita Seks Dewasa Terbaru 2016

Cerita seks dewasa dibawah ini hanya cerita fiksi, jika ada kesamaan nama dan lokasi hanya kebetulan saja. Cerita seks dewasa kayak gini jarang ada lo. Alurnya ceritanya gak grasa-grusu. SIlahkan dibaca dibawah ini:

Cerita Seks Dewasa – Ino, Sebuah Penyesalan (Perselingkuhan)

Karena ada permintaan terkait dengan postingan ini, yang diletakan dibeberapa thread berbeda, maka dengan segala kerendahan hati, semua cerita seks dewasa ini saya gabungkan saja, agar mudah dinikmati…

Terima kasih…. Cerita seks dewasanya tetap yang lama Cuma digabungkan saja. Mohon maaf admin dan rekan pembaca….

Cerita Seks Dewasa – Awal Petualangan

Dulunya ino tak pernah berpikir akan bertindak sangat jauh seperti ini. Namun perjalanan waktu membuat semuanya berjalan di luar kendalinya. Dan ia menikmatinya. Semua bermula ketika pagi itu, seperti kebiasaannya, Ino ke kantor saat pukul masih menunjukan angka 07.00 pagi. Sebenarnya pagi itu, cuaca di luar mendung, maklum lagi puncak musim hujan.
“Pagi kakak…” suara lembut menyambutnya di ruangannya.
“eh, kamu Yun…” balas Ino. Ia tersenyum pada Yuyun. Ino lalu melirik ruangan kantornya yang masih sepi. Rekan-rekan kerjanya biasanya datang jam 7.30 itupun masih ada yang telat, palagi dengan suasana mendung yang mulai rintik begini. Pastinya mereka punya alasan tepat untuk lebih telat lagi.
“eh, kak..” suara Yuyun melepaskan kegiatan Ino yang tengah membongkar tas laptopnya.
“yup..?” Ino melirik Yuyun. Yuyun adalah siswa kerja praktek (PKL) dari sebuah lembaga pendidikan komputer di kotanya.
“ini kak, kami kan mau bikin laporan, boleh gak pinjam komputer…” tanya Yuyun yang saat itu tengah mengelap meja kerjanya.
“ohh..boleh saja, tapi kalo bisa jangan pada saat jam sibuk, kalo komputernya lagi gak pake untuk kerjaan kantor, silahkan saja..oh ya, jangan-jangan kamu yang sms aku kan soal ini seminggu lalu?”
“hoo-oh, tapi kakak gak bales waktu itu..ehm..jadi gak apa-apa ya, kak?” Yuyun menyakinkan dirinya, suaranya terdengar sedikit manja.
“oh ya? habisnya sms nya gak bilang dari siapa, lagian udah malem banget. Jadi kakak kiro itu si Ivo yang iseng.. ya gak masalah kalo kamu mau pake. Silahkan saja…” jawab Ino sambil tersenyum.
“makasih kak..” sambut Yuyun gembira, sambil terus mengelap meja Ino, Ino yang saat itu tengah mencari stop-contact untuk menyambungkan arus listrik ke laptopnya, yang berada di dinding bawah belakang kursinya, dengan tanpa sengaja menyentuh pantat Yuyun.
“aduh, maaf Yun..” katanya kaget. Walaupun ia sempat berdetak sekilas, pantat Yuyun terasa kenyal. Wajar saja, tubuh gadis ini tengah berkembang mendekati pertumbuhan matang menjadi seorang wanita dewasa.
“duh kena deh…” canda Yuyun. Membuat Ino lega, ia pikir Yuyun bakal marah.

Terkena strum tanpa sengaja itu, membuat Ino akhirnya memperhatikan Yuyun lebih lekat. Gadis 20 tahunan ini, ternyata menarik juga. Tubuhnya tinggi, wajahnya manis. Sayangnya tubuh ini selalu terbungkus jilbab longgar. Sehingga ia agak sulit menduga bentuk tubuhnya. Namun, kalaupun Yuyun tidak berpakaian seperti itu, Ino juga tidak bakal sadar ada mahluk manis ini karena selama ini Ino, selalu sibuk dengan aktivitas kantornya, sehingga ia tidak terlalu peduli.

“eh kak, memperhatiin apa sih…” suara Yuyun mengejutkan Ino dan mengembalikan dirinya ke alam sadar.
“eh enggak apa-apa kok….” Ino mengelak.
“Lagi kangen sama mbaknya ya…” goda Yuyun.
“ah, kamu bisa saja…” balas Ino, Yuyun malah tersenyum lagi.
Yuyun bergerak meninggalkan meja Ino, karena acara ngelapnya udahan. Namun karena harus melewati Ino, dengan ‘tanpa sengaja’ ia menggesekkan pantatnya ke paha Ino sambil berkata menggoda:
“yee yang lagi kangen…”
Ino tak menanggapi kata-kata Yuyun itu, ia lebih fokus pada pantat kenyal itu yang sekali lagi “tersentuh” tubuhnya. Yang membuatnya lebih berdebar lagi, karena tubuh Yuyun yang hampir setinggi dirinya, paling beda tiga jari itu, maka saat Yuyun melewati dia tadi, pantat itu sebenarnya sempat menyenggol penisnya. Pantat itu mengingatkannya pada Indri, isterinya. Namun Ino tak mau berkhayal lebih jauh. Laptopnya sudah started up dan ia mulai lagi dengan pekerjaannya. Sementara rintik di luar, berubah menjadi hujan kecil yang merambat pelan menjadi sangat deras.
Sekitar 15 menit, Yuyun mendekat lagi. Ditangannya ada secangkir teh.
“ini kak, tehnya…”
Entah kenapa Ino, menginginkan Yuyun “menyentuhkan” tubuhnya lagi. Ino harus jujur, ia memang sudah lama tidak disentuh dan menyentuh wanita. Kehangatan wanita sudah hampir setahun ini ia tidak rasakan lagi secara simultan. Ya, sejak isterinya tinggal di negara lain, melanjutkan studi pasca sarjananya, Ino harus berpuasa. Kepuasan seksnya ia lampiaskan dengan seks by phone sambil onani dengan isterinya. Ino memang sempat berpikir untuk mencoba mencari selingan. Namun ia ragu, karena ia memang masih sayang dengan isterinya. Selain itu Ino juga tidak mau mengambil resiko. Ino terbilang save player, ia mau saja selingkuh asal aman (baik dari penyakit dan juga resiko dituntut selingkuhannya).

Ino, merasakan desir birahinya menyambar. Apalagi saat ini suasana sangat mendukung. Hujan deras di luar, menebar hawa dingin menggelitik, sementara di ruangan ini hanya ada dia dan Yuyun, yang dengan tanpa sengaja pagi ini, telah membuat dirinya terpancing untuk merasakan lagi kehangatan wanita. Sempat terlintas ide gila untuk mengajak Yuyun bercinta pagi ini. Namun Ino, sadar ini hanya godaan sesaat saja. Ino memang dikenal sebagai suami yang setia.

Kalau Ino mau sadar, sebenarnya sudah sejak tiga bulan lalu, saat Yuyun pertama kali praktek, dirinya telah beberapa kali bersentuhan dengan Yuyun. Hanya saja dirinya tidak sadar, padahal saat itu, beberapa kali tangan mereka sempat bersentuhan lama. Bahkan beberapa kali tangan Ino sempat menyenggol dada Yuyun, saat ia memindahkan tumpukan buka tebal yang dibawa Yuyun untuk dinaikan ke atas lemari arsip. Saat itu, Ino tak berpikiran apa-apa. Hanya saja Yuyun, merasa hal yang sebaliknya. Ia yang sadar Ino lelaki jablay, merasa Ino menggodanya dengan sentuhan-sentuhan kecil itu.

Sebagai perempuan yang beranjak menjadi wanita sempurna, Yuyun pun sebenarnya menyukai sentuhan-sentuhan itu. Kadang ia menginginkan lebih. Namun ia menahannya, karena ia tengah mencari sosok yang ngepas, yang bisa menuntunnya menikmati surga dunia itu secara sempurna. Meski berkerudung, namun Yuyun termasuk cewek yang terbuka dalam hal seks. Ia sudah banyak melahap buku-buku seputar hubungan intim pria dan wanita. Karena itulah, menurut Yuyun, lelaki yang sudah berkeluarga adalah yang paling cocok untuk mengajaknya berpetualang menuju puncak asmara.

Dan ia menganggap Ino cocok untuk mengajak dirinya menjelajahi dunia yang sempat ia rasakan sedikit dulu dengan mantan pacarnya, ketika ia SMP. Kala itu Yuyun sudah merasakan nikmatnya dicium. Namun setelah itu semua terputus, hingga saat ini, dimana ia telah menemukan Ino. Yuyun tahu posisi Ino, karena itu Yuyun hanya ingin berpetualang, tidak lebih. Meski sedikit ada rasa simpati di hatinya untuk Ino, namun selalu ia tekan hingga tidak berkembang menjadi rasa sayang. Ia takut, semua akan menjadi berantakan nantinya.

Ino, usianya menjelang 30 tahun, ia baru menikah 3 tahun lalu. Tingginya 175 cm, tubuhnya tidak terlalu atletis, tapi karena ia rajin olahraga, membuatnya terlihat bugar. Isterinya, indri, seorang dosen bahasa inggris. Kehidupan rumah tangga mereka sebenarnya bahagia. Seks mereka dahsyat. Indri, usia 28 tahun. Tubuhnya mungil tapi sintal-padat. Perutnya tipis, dadanya membusung ketat, kenyal dan ditopang oleh bokong yang penuh.

Di depan kelas, indri sangatlah lembut. Namun di atas ranjang ia bak kuda liar. Energi seksnya seakan tak terpuaskan. Dan Ino yang bertenaga gajah hampir selalu bisa menuntaskan letupan api asmara Indri dengan limpahan spermanya yang membucah bak lava. Indri dan Ino selalu merindukan saat-saat menyatukan hasrat itu. Leguhan panas indri biasanya meletup sesaat sebelum orgasme melingkupinya, sementara dengus napas Ino, membelah tungku api asmara itu.

Penis 16,5 centi dengan diameter 4cm, cukuplah membuat Indri tergial-gial tak berdaya saat orgasme kedua atau ketiganya melanda. Yang paling Indri suka adalah saat Ino mengenjot dirinya dengan posisi konvensional dimana Ino memeluk tubuhnya ketat. Tubuh mungilnya seakan tertelan di bawah tubuh besar Ino. Sementara vaginanya genjot dengan speed berirama. Bagai mengendarai mobil, Ino tahu kapan harus pindah gear, ngerem atau ngebut. Selagi menggoyang dengan posisi ini biasanya telapak tangan Ino meremas-remas pantat Indri, membuat Indri semakin melayang. Biasanya Indri orgasme untuk kali kedua dengan posisi ini.

Orgasme pertama biasanya ia rengkuh, saat foreplay. Saat Ino menghujani seluruh tubuhnya dengan jilatan liar. Mengusap dada, memilinnya, menjilat dan menghisap puting susunya. Atau saat ino memainkan klitroisnya dengan jari dan lidah. Indri termasuk wanita yang mudah orgasme, apalagi kalau dia sedang masa subur. Dan Ino adalah lelaki yang sangat senang memuaskan dirinya. Sementara untuk Ino, permainan selalu harus diakhiri dengan gaya doggy style, posisi ini memungkinkan jepitan hangat dan kuat vagina Indri mencapai tingkat tertinggi. Di sisi lain dengan posisi ini, Indri merasakan sodokan penis Ino, bak jurus tombak shaolin, yang membuat mereka terkapar bagai ikan kehabisan air.

Indri selalu merindukan penis Ino menusuk-nusuk lobang vaginanya. Segala stressnya akan hilang, saat penis Ino menyumpal liang surga duniawinya itu, dengan penisnya yang keras membesi. Karena itu, ia tidak pernah segan meminta Ino untuk menggumulinya, menggenjotnya hingga titik tenaga terakhir. Untuk mendukung itu, keperluan Ino selalu ia penuhi, mulai dari jamu tradisional sampai obat modern, meski ino jarang meminumnya. Ino cukup dengan olahraga dan minum madu saja.

“kak…melamun lagi…” Yuyun menepuk bahu Ino, Ino yang terkejut langsung menangkap tangan itu dan menariknya. Yuyun yang tidak menyangka reaksi Ino, tertarik ke depan dan jatuh ke pangkuan Ino. Dadanya menempel di dada Ino, dan menekan kuat. Seketika Ino merasakan hangatnya tubuh dan kekenyalan dada Yuyun. Mereka terdiam, Ino masih memegang tangan Yuyun, mereka terdiam. Mereka bertatapan. Yuyun merasakan dengus napas Ino menerpa keningnya.

Dalam diam mereka, Ino yang sudah birahi, memberanikan diri menggerakan bibirnya, mencoba menyentuh bibir Yuyun, namun ia tak mau terburu-buru dan masih takut Yuyun akan marah. Sehingga ia mengalihkan arah bibirnya ke kening Yuyun. Seakan mengerti, Yuyun yang memang sudah tertarik sejak awal pada Ino, memejamkan matanya dan membuka sedikit mulutnya. Bibir Yuyun yang tidak terlalu tipis namun padat itu membuat Ino mengurungkan niatnya mencium kening gadis itu. Perlahan, masih setengah yakin setengah ragu, Ino menurunkan lagi bibirnya. Detik-detik itu terasa sangat mendebarkan. Akhirnya bibir Ino menyentuh lembut bibir Yuyun dengan lembut. Kecupan ringan dan sekilas. Ino melepaskan kecupan ringan itu, menunggu reaksi gadis itu. sementara Yuyun masih terpejam, bibirnya masih terbuka kecil. Melihat itu, Ino kembali mendekatkan bibirnya, kali ini kecupannya diikuti sedikit hisapan pada bibir atas Yuyun, mencoba mencari kepastian dari Yuyun. Bagaimanapun Ino masih ragu, ini kali pertama mereka berdekapan erat dan tanpa rencana. Yuyun pun membuka sedikit lagi bibirnya, sehingga Ino bisa menyelipkan bibir bawahnya lebih dalam dan leluasa di antara belahan bibir itu, untuk kemudian memagut bibir atas Yuyun, lalu menghisapnya.
Pagutan dengan hisapan lembut itu, terasa hangat. Sesaat kemudian Yuyun membuka matanya sedikit, melepaskan bibirnya dari pagutan Ino, meski tak menarik wajahnya. Ino menyiratkan rasa kecewa. Yuyun tersenyum. Ia melepaskan pegangan tangan Ino. Tanpa diduga tangan itu malah melingkar di leher Ino. Yuyun melekatkan lagi bibirnya pada mulut Ino. Ino dengan sigap menyambut. Kali ini, seakan sudah mengerti, mereka pun saling melumat. Awalnya lumatan-lumatan lembut dengan sedikit hisapan. Saling meneliti tiap mili bibir mereka.

Tangan Yuyun, bergerak memegang pipi Ino, seakan tak ingin bibir Ino lari dari bibirnya. Sementara ino yang mendapat angin segar, memberanikan diri menurunkan tangannya bergerak ke arah pinggang Yuyun. Ino mendorong tubuh Yuyun sedikit, mencari posisi, agar penisnya tidak tertekan tubuh Yuyun. Untunglah kursi Ino tidak bertangan, sehingga dengan mendorong kursi itu sedikit ke belakang, agar mereka tidak terlalu terjepit oleh meja, mereka jauh lebih leluasa. Yuyun mengubah posisinya sehingga ia kini duduk mengangkangi Ino. Hari itu, tidak seperti biasanya Yuyun tidak memakai rok panjang, ia memakai celana panjang.

Ino, mengusapi punggung Yuyun, tangannya mulai berani menyelip ke bawah kerudung, lalu naik memegang leher Yuyun. Yuyun merasa hangatnya tangan Ino, menyentuh kulit lehernya. Ino menekan kepala Yuyun, mereka saling lumat lagi, kali ini bibir Ino berupaya menyeruak masuk ke dalam mulut Yuyun. Yuyun pun tak mau kalah, gadis itu menghisap lidah Ino. Saling bergantian mereka saling hisap.
“kamu pandai berciuman…” puji Ino seakan melupakan kalau saat ini ia sudah resmi mengkhianti isterinya.
‘ belajar dimana?…” selidiknya.
“ehm…ada deh…hh” goda Yuyun diantara bibir Ino. Gadis yang penampilannya santun ini, ternyata menyimpan birahi berkobar. Di luar hujan semakin deras. Ino dan Yuyun terus berpacu, saling melumat dan hisap, semakin dalam dan panas. Ino semakin berani menjelajahi tubuh Yuyun, tangan kirinya bergerak ke bawah dan meremasi bokong Yuyun, bokong yang tadi memancing birahinya. Bokong gadis ini, ternyata sedikit lebih besar dari milik istrinya. Yuyun tergial.
‘Auu…” pekiknya tertahan manja.
Sudah hampir 15 menit aktivitas itu mereka lakoni, pakaian Yuyun mulai berantakan, sementara bibir mereka seakan menjadi tebal. Ino tengah berupaya menyelusupkan tangannya ke balik blazer Yuyun untuk meraih dada gadis itu, ketika ponsel Yuyun berbunyi keras. Mereka kaget. Berbarengan dengan itu terdengar suara sepatu bergerak masuk ke ruangan mereka. Mereka segera saling melepaskan, dan pura-pura beraktivitas seperti biasa.
Yuyun melangkah ke arah ruang komputer di ruangan sebelah sebelah dekat meja Ino, langsung pura-pura melanjutkan pekerjaan. Yang datang ternyata ivo. Pakainnya tampak sedikit basah.
“uihh…basah semua deh” gerutunya saat melangkah ke arah meja Ino. Ivo biasanya memang langsung ke meja Ino kalau datang, sebab ia tahu, Ino selalu datang duluan. Ino yang pura-pura bekerja di laptopnya, tersenyum geli.
“makanya, jangan buru-buru ke kantor neng..” katanya asal
“yee orang mau cepat-cepat ke kantor malah gak boleh…gimana sih?” rutuk ivo
“bukannya gitu, kalo hujan ya datengnya lebih cepat sebelum hujan turun lebat, atau…gak usah datang sama sekali…kan gak ngaruh..hahahahaha” Ino geli sendiri. Ivo manyun.
Ino memperhatikan Ivo baju bagian atasnya agak kuyup, sehingga lekuk tubuh atasnya terlihat menyembul. Sebenarnya Ino senasib dengan Ivo, saat ini Ivo tinggal sendiri, ia ditinggal suaminya bekerja di Jepang sejak dua tahun lalu. Karena itu mereka terlihat akrab.
“No, tolong nyingkir dulu dong, aku ganti baju…”
“yee…kenapa sih gak ganti saja langsung, gak usah pake ngusir2 segala” rutuk Ino
“elo mau liat aku telanjang?”
“sapa takyuttt” goda Ino.
“Bener?”
“jangan deh-jangan deh…jangan ragu-ragu..hahahahah”
“maunya ya…”
“udah deh, ganti di ruang sebelah saja…” Ino masih gak mo nyingkir
“yahhh…” Ivo menggerutu, namun tetap melangkah ke ruang sebelah. Di sana ia memperhatikan Yuyun yang tengah mengerjakan, entah apa.

Hari itu berlalu saja, semua aktivitas bisnis kantor ini berjalan biasa. Ino dan Yuyun sendiri seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun Ino sempat mengirimkan sms pada Yuyun, Ia minta maaf dengan apa yang terjadi tadi. Namun Yuyun mengatakan tidak ada yang salah dan perlu dimaafkan.
“kalo geto boleh dong, dicoba lagi…” goda Ino masih via sms.
“syapa takyutt..” bales Yuyun balik menggoda. Jawaban ini semakin menyakinkan Ino, ia bisa melanjutkan “permainan panas” ini.
Dan sejak itu mereka selalu melakukan aktivitas ini, hanya saja mereka belum melangkah lebih jauh, saling kecup, remas dan menggesekan kemaluan mereka dari luar. Mereka masih saling jaga dan hati-hati, walaupun keinginan untuk merasakan kenikmatan lebih intens selalu menggoda. Sebagai lelaki yang pernah merasakan nikmatnya jepitan vagina wanita, keinginan itu lebih kuat. Apalagi kala berdua dengan Yuyun, wanita muda yang birahinya mudah terkobar dan sangat merangsang.

Namun seiring waktu, sedikit demi sedikit mereka mulai berani memasuki zona-zona yang pada awalnya mereka hindari. Kini Ino, sudah berani menyelinap masuk dibalik baju, meremasi dada Yuyun. Memainkan puting susu yang masih merah coklat muda itu serta menyusupkan jarinya ke balik celana gadis itu, mengilik-ilik klitorisnya. Sampai Gadis itu meregang. Orgasme. Yuyun juga sudah terampil menyelipkan jemari lentiknya memegang penis Ino. Sudah tentu, hal ini semakin menggoda mereka untuk bertindak lebih lanjut. Yuyun sudah tidak malu dan ragu lagi, saat Ino, menarik baju panjangnya ke atas atau membuka kancing bagian atasnya, membiarkan dada montoknya dikecupi, dijilati, dihisapi dan diremasi olehnya. Pun Yuyun, sudah fasih melepasi ikat pinggang Ino, memelorotkan celana Ino dan mengocok penis Ino, sampai penis itu memuntahkan isinya. Awalnya ia sempat kaget melihat penis Ino yang menurutnya sangat gede. Yuyun terkagum-kagum saat batang penis coklat tua ia meregang keras saat ia kocoki. Yuyun sudah tidak malu lagi melihat penis Ino. Permainan pun, tidak lagi hanya di kantor tapi di kontrakan Yuyun, atau di rumah Ino.
……………….
sampai suatu ketika, akhir pekan di rumah Ino.
“ohh…hss” Yuyun mendesah manja, saat mulut Ino melumat puting susunya.
Yuyun sudah setengah telanjang, tergeletak di atas kasur empuk, tempat dimana Ino dan Indri biasanya melepas birahi. Ino menindih Yuyun. Baju bagian atas Yuyun sudah terbuka semua meski tidak terlepas dari tubuhnya. Dada yuyun yang padat dan montok itu membusung, putih mulus dengan puting merah kecoklatan, mancung menantang. Sembari melumati dada, tangan Ino bergantian meremasi, dan memilin dada dan puting susu yang kian mengeras dan ngacung itu.
Terganggu dengan baju dan BH Yuyun, Ino berusaha melepaskannya. Saat melepas baju itu, kerudung Yuyun ikut terlepas. Ternyata tanpa kerudung itu, wajah yuyun ternyata lebih mirip mulan jameela. Pandangan pertama ini membuat Ino semakin bernafsu. Bibirnya kini pindah ke leher putih mulus dan jenjang . Yuyun yang sudah terangsang tidak peduli lagi dengan kerudung di kepalanya. Tangannya meraih kepala Ino.
“ehm,,,hhh” desahnya.
Yuyun menggeliat, saat mulut Ino merayapi lehernya, kumis dan janggutnya yang baru tumbuh itu mengelitik dan menambah sensasi yang Yuyun rasakan. Tangan ino terus meremasi dada yuyun kiri dan kanan. Gadis itu meliuk-liuk keenakan, padahal Ino baru membuka permainan. Ino memang berniat ingin membuat gadis ini terkapar kepuasan. Ia memang sudah merencanakan ini. Targetnya paling tidak Yuyun mau mengoralnya hari ini. Selama ini, Yuyun belum mau disuruh oral. Ino sudah lupa daratan. Tapi ia tak sepenuhnya bisa disalahkan, Yuyun juga menginginkan percintaan ini.
Ino menurunkan kecupannya, bibirnya bergerak ke pundak, turun ke ketiak. Membuat Yuyun terpekik..
“auu,,,,geli. Kak!!!”
tapi itu tak lama, mulut Ino kembali merayapi dada gadis itu, turus ke perut dan menciumi pusar Yuyun. Pengalaman pertama ini membuat Yuyun, kian melayang. Ino mengangkat rok panjang Yuyun, hingga paha mulus itu terpentang. Selintas Ino melihat cd hitam Yuyun yang menutupi lembah kenikmatannya.
“hmmm…” dengus Ino.
“Kak…?”
“Yun…”
Ino mengusap paha itu sambil mengecupinya, sementara tangan kirinya meremasi dada yuyun. Mata gadis itu sayu. Puas merayapi paha itu, tangan kanan Ino, bergerak menyelinap ke balik cd Yuyun. Napas Yuyun seakan berhenti, saat perlahan namun pasti jemari Ino mengusap sekitar gundukan itu. Ino sengaja berputar-putar sejenak, memberi kesempatan Yuyun, menikmati aliran jarinya, sebelum menuju klitoris. Dengan lincah ino memainkan klit gadis itu. Sembari mulutnya kembali naik menghisapi buah dada Yuyun, yang semakin membesar, karena kian terangsang. Napas yuyun mulai tak teratur. Rangsangan di klitoris dan jilatan dan hisapan di dadanya membuat gadis ini merasakan urat-urat pembuluh darahnya mengembang, karena detak jantungnya semakin cepat. Ototnya mengeras, sebuah sensasi kenikmatan merasuki semua jalur sel ditubuhnya, nafasnya kian memburu. Sensasi kenikmatan itu tak dapat ditahannya, membuat dirinya meledak.
“ahh….kkk..kakkkk” jeritnya. Tubuhnya mengejang, memeluk Ino. Sesaat Yuyun serasa di dunia lain, melayang entah kemana. Ino tersenyum. Ia memeluk tubuh Yuyun yang mulai basah berkeringat. Bibirnya mengecup kening gadis itu syahdu, membiarkan wanita ini melepaskan sensasi nikmatnya. Sesaat kemudian, Ino melepasi bajunya sendiri. Otot dada dan perutnya terlihat mengkilap. Saat ‘mengerjai’ Yuyun tadi, rupanya Ino ikutan berkeringat.
Yuyun yang sudah pulih, menatap tubuh itu. Ia tahu kini tugas beralih padanya. Dengan penuh gemulai ia melepasi celana Ino. Ternyata batang kemaluannya sudah berdiri, meski baru setengahnya. Yuyun memegangnya. Meremasinya. Batang itu bergerak mengacung. Ino terguling terlentang, sementara Yuyun menyandarkan kepalanya di dada Ino. Ia mulai mengocok batang itu. Sementara Ino, berusaha menggapai buah dada Yuyun, memilin putingnya. Sesekali ia meremas dada itu kuat2, membuat Yuyun menghentikan kocokannya. Karena aktivitas ini sudah sering dirasakan oleh Ino, sehingga meskipun sudah 15 menitan Yuyun mengocoki penis Ino, namun belum ada tanda2 bakal muntah.
“kok lama ya kak…?” tanya Yuyun polos.
“gini deh…” lalu Ino menyuruh Yuyun memutar pinggulnya ke arah kepalanya. Dengan sigap ia melepasi cd yuyun dan melolosi rok yuyun. Gadis itu terkejut. Ia telanjang bulat sekarang. Dan ini kali pertama ia telanjang di hadapan Ino, selama ini mereka tidak pernah telanjang bulat. Kini dua-duanya polos
“kak,,,,,mau diap…” belum selesai yuyun berkata…Ino sudah menyergap selangkangan Yuyun, dan menjelati permukaan luar liang kenikmatan itu.
“ouw…akh,,,kak,,,ihh” Yuyun tergial-gial lagi. Ia merasakan sensasi liar dari bagian sensitivenya itu bergerak muncul kembali. Namun kali ini ia merasakan sensasi kenikmatan itu bergerak lebih cepat, apalagi saat lidah Ino menjilati klitnya, sesekali diiringi kecupan dan hisapan lembut.
“kak,,,kakak gila, masakhhhh…ehhh” Yuyun tak bisa bicaar lagi. Meski ia tahu, Ino sedang mecunninglus dirinya. Namun ia tak menyangka kenikmatannya begini tara.
Tangan Ino naik lagi ke atas, menjelajahi dada Yuyun. Membuat dada itu kembali mengeras dan membusung, mengacungkan putingnya yang indah. Hanya beberapa saat, gelombang kenikmatan Yuyun kembali melanda. Hal ini disebabkan sensasi kenikmatan pertama tadi masih merayapi tubuhnya, sehingga dengan rangsangan sedikit saja, badai orgasme menerjang lagi. Ia melengkungkan tubuhnya, mengangkat panggulnya tinggi, pahanya mengejang dan menjepit kepala Ino, membuat Ino kesulitan bernapas.
“ahh,,,,kakak,,,,,okhhhh” leguhnya panjang. Gadis itu terkapar lagi. Yuyun memang setipe dengan Indri, saat klitnya dijilati, maka tak akan mampu bertahan lama. Sebuah keuntungan tersendiri karena dapat menikmatinya dengan begitu mudah.
“kakak gila….” rengeknya
“tapi seru kan?” goda Ino
“iya sih, tapi Yuyun jadi cape nee…” manja suara gadis ini. Ia memeluk Ino. Sementara Penis Ino sedikit kempes, karena kurang rangsangan. Ino menindih tubuh telanjang itu. Ia menciumi lagi bibir dan lehernya. Sesekali dengan cepat ia menjilati dada gadis itu. Yuyun yang sudah agak pulih, kembali terangsang. Alami sekali, ia mengangkangkan pahanya sehingga Ino lebih leluasa bergerak. Gadis itu merasakan penis Ino mulai mengeras lagi dan menekan sedikit dibawah pusarnya. Sesungguhnya ia ingin sekali merasai penis itu di liang surgawinya. Namun ada sedikit rasa ragu. Tangannya bergerak meraih penis itu. Mengusapnya.
“hemsh..” dengus Ino. Ino meraih tangan itu di penisnya, dan merentangkan kedua tangan itu ke atas kepalanya, lalu ia menjilati seluruh tubuh gadis itu. Meremasi dada, perut, pinggul dan pantat yuyun, mencoba memainkan kembali, sensasi yang masih berayun-ayun di tubuh yuyun.
Ino sendiri sebenarnya ingin sekali menjejalkan batang penisnya ke vagina Yuyun, yang sudah sangat basah itu. Rangsangan yang ia berikan pada yuyun, sudah membuat gadis ini pasrah bila penisnya merasuk ke vaginanya. Tapi tampaknya keduanya masih ragu. Ino tidak mau memaksa. Akan tetapi dengan kondisi seperti ini, dimana mereka sama-sama sudah sangat terangsang, keraguan itu sedikit aneh.
“Yun…” bisik Ino di telinga gadis yang sudah semakin sayu itu. Geletar keinginan untuk meraih kenikmatan lebih jauh mengayun kesadaran gadis ini.
“hmm…” desah Yuyun menjawab bisikan Ino. Ia merasakan penis itu semakin keras, dan bergerak sedikit di permukaan vaginanya. Kepala penis yang sudah berwarna ungu itu menyentuh klitorisnya. Yuyun berdesir. Sensasinya beda. Akhirnya dalam kepasrahannya
yuyun berbisik
“kak,,,kalau kakak mau, Yuyun rela diperawani…”. Ino terenyuh dalam nafsunya mendengar kata2 yuyun itu. Ino tak menjawab, ia menyentuh sekali lagi vagina Yuyun, masih basah, kenyataan wanita ini sudah sangat terangsang. Tubuhnya kini sangat sensitive terhadap sentuhan Ino.
“…kak…Yuyun juga ingin, merasakan kenikmatan bersetubuh kak…” Yuyun seakan meyakinkan Ino untuk tidak ragu.
“ayo kak, puasi Yuyun, ajak yuyun bertualang kak” pinta Yuyun. Ino seakan tak mendengar, ia terus mengecupi dan meremasi seluruh bagian tubuh Yuyun, yang sudah tidak tahan lagi itu.
“kak!!!” teriak Yuyun, sedikit putus asa.
“apa?” balas Ino pura-pura tak mendengar.
“ayo dong….!!”
“he-eh” ino menyeringai…lalu dengan sedikit kasar, ia mementangkan paha Yuyun dan menaruh bantal di bawah bokongnya. Yuyun pasrah, ia merasakan ada benda keras, bergerak-gerak di depan liang vaginanya. Lambat tapi pasti penis Ino, mencoba menerobos masuk. Yuyun hanya terpejam, mencoba menikmati detik-detik hilangnya keperawanannya. Ia sangat pasrah dan percaya Ino, akan memberikan yang terbaik untuknya. Selama ini ia sudah membuktikannya. Namun demikian Yuyun, deg-degan juga, antara penasaran ingin merasakan bagaimana rasanya penis yang biasanya hanya ia kocok dengan tangan itu, memasuki liang vaginanya dan ada juga rasa takut bagaimana penis besar itu bisa masuk ke vaginanya yang sempit. Yuyun menahan napas, saat ia merasakan ada daging kenyal mulai melesak di bibir luar vaginanya..
“ehmmm,” desahnya saat benda keras-kenyal itu bergerak membelah vaginanya.
meski sudah sangat basah, namun tetap saja, penis Ino sulit masuk dengan lancar. Saat kepala penis sudah masuk, Ino mulai mengoyang keluar masuk perlahan. Memberikan kesempatan liang Yuyun untuk membuka sedikit demi sedikit. Gesekan perlahan ini, tak urung membuat Yuyun mulai tergial. Sedikit demi sedikit penis Ino mulai menyeruak menerobos, hingga seperempat lebih penis Ino masuk, ia merasakan ada sedikit hambatan dan ia merasakan ada sesuatu yang robek.
“ouw,,,” teriak yuyun. Ia meringis
“sakit yun?” tanya Ino
“gak..Cuma serasa ada yang lepas saja, terus kak, enak..hmmms” katanya.
Ino kembali mengoyang perlahan, lambat laun penis itu tertanam. Yuyun sendiri merasakan sensasi gesekan itu kian nikmat. Karena saat mendorong penisnya masuk, Ino melakukan gerakan mendorong dan menarik dengan penuh perasaan, hingga satu tekanan terakhir seluruh penisnya telah tertelan liang surgawi milik Yuyun. Ino menekan sedikit kuat namun tetap pelan.
“ohhkkk…” desahnya panjang. Yuyun merasakan liangnya penuh sesak. Ino mendiamkan penisnya tertanam sejenak di liang itu.
“kak…” erang Yuyun. Ia tersenyum. Ino mendekapnya erat. Hingga mereka dapat merasakan detak jantung mereka sendiri. Yuyun mengigit bibir bawahnya.
Semenit kemudian, ino mulai melakukan gerakan maju mundur. Perlahan-lahan tapi pasti, penis itu bergerak mengaduk vagina Yuyun..
“oh,,,kak,,,ehm” leguh Yuyun, merasakan kenikmatan bersenggama sesungguhnya. Ia tidak merasakan sakit sama sekali saat penetrasi tadi, karena Ino memang melakukan pemanasan yang lebih dari cukup, sehingga dirinya sangat terangsang.
Menit demi menit, goyangnya Ino semakin mantap. Yuyun mulai bisa mengimbangi gerakan tusukan Ino. Saat Ino menekan penisnya, ia melakukan kontraksi otot vaginanya, sehingga penis Ino serasa diurut-urut, ditambah lagi liang Yuyun yang masih asli, terasa sekali jepitannya.
‘Oh, Yun,,,enak banget…’ bisik Ino
“hmss,,,kak, nikmat sekali,,,ohh,,,terus kak,,okhh” rengek Yuyun. Ia menggigit bibirnya, saat penis Ino menyentuh sesuatu yang membuatnya menahan napas.
“ya kak, terus,,,itu kak, oh,,,enak sekali kakkk…penis kakak ohhh…” racaunya
Tanpa memperdulikan racauan Yuyun Ino terus memompa panggulnya, sembari sesekali mencium bibir dan buah dada gadis itu. Dengan teknik 9 tusukan pendek, 1 tusukan panjang, Ino berhasil menggiring Yuyun mendekati titik tertinggi persenggamaan ini.
“oh,,,kak terus kak,,terus ouw…” Yuyun tergial. Wajahnya memerah, matanya kian sayu. Tangannya mencoba meraih pantat Ino, yang tengah memompanya,
“terus kak…dalam kak…oh…” pintanya. Ino mengerti, kalau wanita sudah meminta tusukan lebih dalam, ia sudah mendekati orgasme, maka ia mengganti tusukan 9 pendek menjadi 5 pendek 1 panjang. Akibatnya Yuyun, bagai gila menerima badai kenikmatan di liangnya. Sensasinya merayapi seluruh pembuluh darahnya. desakan kenikmatan itu kian tak tertahan, menerobos ke sum-sum mendekati jaringan otaknya.
“kakak…ohkk,,,,ohh…aw”
Ino mempercepat goyangnya, membuat desakan kenikmatan yang Yuyun rasakan kian tak tertahan.
“oh,,,kakak aku ingin kencing.” Teriaknya
“kencing saja,!!” balas Ino ditengah dengusnya. Ia tahu penisnya berhasil merangsang g-spot Yuyun, rasa ingin kecing itulah tandanya. Ia terus memompa dengan cepat, sehingga rangsangan itu semakin intens. Yuyun merasakan sensasi itu sudah menerobos otaknya. Ia tak mampu mempertahankan dirinya lagi, Yuyun berteriak:
“Oh,,,kakak Yuyun gak tahan lagii,,,ahkhhhhh,,..” Yuyun mengangkat panggulnya tinggi dan mengejangkan pahanya. Lehernya terdongak. Nafasnya tersengal hebat. Yuyun merasa tubuhnya lemas sekali. Sebuah pelepasan tiada tara. Berbeda sekali dengan yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ino memeluk tubuh yang sudah banjir keringat itu. Ino tahu ini pengalaman pertama Yuyun, karena itu ia tidak mau ngoyo. Namun demikian ia sendiri ingin meraih puncaknya. Sesaat kemudian, ino kembali memompa.
“Yun bantu aku ya,,,” bisiknya mesra, mencium lembut bibir gadis manis ini. Yuyun tersenyum. Ino sendiri sebenarnya sadar tidak terlalu lama lagi, ia sendiri akan mencapai puncaknya. Masih dengan gaya konvensional, Ino mengoyang panggulnya turun naik, sementara panggul Yuyun yang kokoh, menahan gempuran. Mereka bergoyang-goyang. Saling tatap, sesekali Ino menurunkan tubuhnya merapat, hingga buah dada Yuyun terhimpit oleh dadanya, dengan terus menggoyang. Posisi ini sangat mesra. Lagi lambat laun sensasi yang Yuyun rasakan tadi kembali muncul, pun yang dirasakan oleh Ino.
Sensasi nikmat ini, semakin menguat, kala goyangnya semakin cepat dan kuat. Ino merasakan vagina segar milik Yuyun, membuatnya bagai menerobos jepitan bergerigi, mengurut setiap mili batang penisnya. Denyut-denyut vagina Yuyun, sangat terasa di penisnya.
Ino, menarik tungkai kaki yuyun dan meletakkannya ke dadanya dengan kaki tersangkut dibahunya, sehingga penisnya bisa masuk lebih dalam. Yuyun merasakan penis Ino menembus rahimnya. Akibatnya sensasi kenikmatan itu kembali menyeruak.
“kak,…?” yuyun merengek.
“Yun,,,” ino mengecup bibir yuyun yang sudah tergolek lemah. Yuyun hanya mampu bertahan menahan gempuran Ino, yang kian menggila. Ino sendiri merasakan sensasi kenikmatan makin terasa di pangkal penisnya. Ia menghujam-hujam lebih cepat dan dalam. Ia ingin mengejar puncaknya.
“Yun aku bentar lagi keluar,” erangnya
“terus saja kak, semprot saja di dalam.” Kata yuyun. Yuyun memang sudah mempersiapkan pil KB, ia mempunyai teman yang bekerja sebagai apoteker, sehingga dengan mudah ia mendapatkan pil itu.
Sensasi kenikmatan yang dirasakan Ino, semakin tak tertahan, gerakannya semakin cepat dan liar. Keliaran ini justru membuat rangsangan di vagina Yuyun juga semakin tak tertahan. Yuyun semakin tak tahan, kepalanya ia banting ke kiri dan ke kanan.
“kakkkkkkkk,,,,,” serunya putus asa
Ino tak memperdulikan teriakan Yuyun, ia terus memompa, kenikmatan itu sudah mulai menerobos saluran spermanya. Semakin memgelembung kuat. Ia mendengus kencang. Ia menggenjot lagi liang vagina Yuyun sudah sangat becek. Tiap genjotannya mengeluarkan suara berkecipak. Yuyun sudah terengah-engah di bawah tubuh Ino. Sementara ino, menurunkan lagi kaki Yuyun. Dengan demikian ia bisa memeluk Yuyun sambil menggenjot lebih kuat dan cepat. Ia ingin melepaskan tekanan kenikmatan ini sambil memeluk Yuyun. Semakin lama goyang Ino, semakint tak menentu, Yuyun pun sudah berada di ujung kenikmatannya. Satu ayunan lagi ia mencapai puncak.
“kak,,,yuyun sudah gak kuat lagii…akkkkkhhhhhhhhhhh” yuyun orgasme lagi. Tubuhnya melengkung lagi. Panggul ia angkat tinggi-tinggi. Sedetik kemudian Ino pun mengejang di atas tubuh yuyun, Ia memeluk tubuh itu dengan erat dan kuat dan menekan panggulnya ke bawah dengan kuat. Akibatnya tubuh mereka menyatu-padu, kencang. Yuyun yang tengah melepaskan kenikmatannya tidak menyadari tubuhnya dipeluk sedemikian kencang oleh Ino. Yang ia tahu ia melambung tinggi. Ino berkelojotan, maninya menyemprot kencang. Penisnya berkedut-kedut kencang, menumpahkan semua isinya.
Mereka berpelukan erat. Hingga akhirnya mereka kembali ke dua sadar mereka. Napas mereka masih tersengal. Ino memeluk Yuyun, membiarkan penisnya tertanam dalam vagina yuyun. Vagina itu masih berkontraksi. Bebarapa Penis Ino masih menegang keras namun lambat laun bergerak mengecil kembali dan keluar dengan sendirinya dari vagina Yuyun. Ino menghempaskan tubuhnya ke samping tubuh gadis yang sudah terkulai lemas itu.
“aduh kak, cape banget,,,,ngilu…” rengeknya manja.
Ino tak menjawab, ia mengecup kening Yuyun. Sore ini ia sudah memerawani satu lagi anak gadis orang.
“makasih ya..Yun, kakak puas banget.” Kata Ino tulus. Yuyun tersenyum. Mereka berciuman mesra. Ino memeluk Yuyun, tanpa dikomando mereka tertidur. Sementara di sudut kamar, foto Indri menyaksikan persenggamaan terlarang itu dengan penuh seringai.
Indri yang bahagia..
Ino meremas pantat isterinya. Sementara bibirnya menelusuri dada isterinya yang sudah satu tahun lebih ini, tak ia sentuh. Indri meleguh kencang.
“ayo bang, langsung saja, udah gak kuat nih,” rengeknya manja. Indri memang sudah tak sabar ingin merasai penis suaminya. Ia rindu dengan kerasnya penis suaminya itu.
Indri menarik tubuh Ino ke ranjang. Ino menindih tubuh isterinya yang sintal itu. Setahun tak disentuh, tubuh itu seakan semakin mencring. Wangi khas tubuh indri, memacu nafsu Ino. Sesaat kemudian ino memasukan penisnya ke dalam liang indri. Karena sudah sangat terangsang, penis itu menorobos tanpa halangan.
“owww,,,,bang,,,ehmmm…ini kontol yang dulu kan?” tanya indri, ia memang suka ngomong blak2kan kalo lagi terangsang.
“ya? Emang napa?” tanya Ino
“gak, Cuma perasaan, kontolmu tambah gede dan kenceng banget seh….ohhkk” Indri tersedak kenikmatan.
“hahaha…” Ino tertawa bangga. Ia mulai menggoyang, menuruti keinginan isteri tersayangnya itu.
‘ehmsshh…” desah Indri, merasakan desakan kontol suaminya itu, menyentuh dinding vaginanya. Melahirkan sensansi kenikmatan. Kontol itu serasa menyesaki memeknya. Setiap Ino menggerakannya panggulnya, maka ribuan syaraf kenikmatan di memeknya, tergesek. Melahirkan sengatan-sengatan yang mengalir ke seluruh aliran darah di tubuhnya. Setahun tak disentuh, membuat tubuh itu bagai aliran listrik, cepat sekali nyetrum.
‘owww…bang” teriak indri saat Ino menyesak kontolnya lebih dalam. Menyisakan buahnya saja di luar. Kontol itu semakin nikmat dan nikmat saja. Ino memberikan sodokan dalam lagi, lagi dan lagi. Membuat Indri yang memang sudah kehausan itu, melayang layang entah kemana. Dan akibatnya, Tiga puluh sodokan saja, sudah membuat ia mengejang keras…
”ouwhhh hsss…bang aku ,,,oh” ia menarik tubuh Ino kuat-kuat. Aliran kenikmatan yang melanda bagai hembusan angin yang masuk ke dalam balon, semakin membesar, semakin kencang, kala kontol Ino merajam habis memeknya. Tubuhnya menggeletar, bokongnya ia angkat tinggi. Indri sudah tak tahan lagi, balon kenikmatan itu meledak. Ino tersenyum menyaksikannya Indri orgasme. Ia mencium bibir Indri, yang masih terengah.

Ino sendiri sebenarnya, sudah sangat rindu dengan kemolekan tubuh istrinya, apalagi dengan kekesatan memek istrinya itu. Karena itu ia ingin memberikan yang terindah, sebagaimana percintaan mereka sebelumnya.

Setelah indri agak tenang, ino kembali memompa. Kontolnya semakin keras, menerobos memek Indri yang sudah semakin licin. Indri tersenyum, ia sangat sayang dan bangga dengan Ino, Ino mampu menguras semua kenikmatan persetubuhannya. Ino adalah pemimpin keluarganya sekaligus penuntas birahinya yang membara. Mereka sama mengetahui itu. Sayangnya Indri tak tahu, kalau kontol suaminya itu pernah bersarang juga di memek lain. Sesuatu yang kelak akan sangat membuat Ino menyesal…

Namun ia tak mau memikirkan hal itu. Saat ini keinginannya hanya ingin memberikan kepuasan tak terkira pada isterinya itu. Kesempatan setelah hampir 13 bulan ini tak menyentuh hangat tubuh mulus Indri. Ya, isterinya mendapat jatah pulang ke Indonesia selama 3 minggu untuk mengambil data dan bahan tambahan untuk penelitian thesisnya. Dan ini merupakan minggu terakhir sebelum Indri kembali berangkat ke Belanda, negeri tempat ia melanjutkan studinya.

Indri meleguh tak henti, meningkahi pompaan kontol suaminya itu pada memeknya yang semakin membasah. Bagai ”pipa angguk” milik Pertamina yang menyedot minyak tiada henti, begitulah pompaan Ino pada Indri. Indri tergial, kepalanya sesekali terangkat, dan menghempas ke kiri dan kanan, tat kala mencoba menahan deburan gelombang kenikmatan di memeknya. Kenikmatan yang merasuk menyela di seluruh aliran darah tubuhnya. Mematikan pendengarannya, membilurkan matanya, menghambat pernapasannya yang membuat ia tersengal.
Ouhhhk….aih…Bang…emmss” rintihnya sembari menggigit bibirnya. Pemandangan yang membuat Ino semakin bernafsu. Kontolnya merasakan kenikmatan itu, namun ia masih bisa mengendalikan dirinya. Paling tidak ia sudah begitu bahagia membuat Indri tergial tiada henti. Ego dan bangga dirinya, mampu membuat isterinya meraung-raung ”gila” menahan nikmat persenggamaan ini.
”aduh Bang, udah gak tahan….” rengek Indri
”Bang pengen pipis,,,,aduh-aduh emhssmmmsshh” Indri meracau.
Hempasan kontol Ino, dengan teknik tusuk dangkal – dalam, bagai tiki-taka Barcelona, mampu menggiring Indri tersudut di ruang kenikmatan tanpa batas,ia membumbung tinggi, membesardan terus membesar bagai gumpalan energi yang siap meledak. Indri ingin memberikan perlawan terakhirnya, namun tenaga Ino bagai gajah itu, tak mampu lagi ia hadapi. Ia tak sanggup, ia pasrah. Gelombang kenikmatan sudah menggulung seluruh tubuhnya, bagai ular phiton yang menggelung mangsanya.
”Bang hkkk…..” rintihnya lagi
”Nikmati saja sayang…” balas Ino sembari mengusap lembut pipi isterinya itu. Percintaan ini masih panjang sayang, ujarnya dalam hati. Ya, Ino bisa saja membuat pergumulan ini menjadi lebih panjang, namun sepertinya ia sudah cukup puas melihat isterinya itu bermandi peluh dan terengah-engah bagai singa yang lelah mengejar mangsanya..
Ino mengoyang lebih cepat dan tensi tusukan dalamnya lebih banyak. Ini membuat Indri semakin gila. Sebentar lagi ia akan meledak lagi, ia menjerit, tubuhnya melengkung, kepalanya mendongak ke belekang, urat lehernya menyebul. Sebuah ledak kenikmatan tiada batas…
”ouhhhh….ahhhhhhh..akkhhhhhhs” nafas indri tersendat beberapa saat, matanya memburan. Ia mengejang keras. Indro menghentikan sodok kontolnya yang cepat tadi, mengubahnya dengan lebih perlahan dan dalam, mengikuti liukan tubuh Indri yang mengejang. Teknik ini justru memperpanjang lepasan energi orgasme Indri. Inilah yang sangat disukai Indri dari Ino, dan dia selalu merindukan hal ini. Ino paham betul isi dan keinginan tubuh dan kebutuhan birahi dirinya. Indri memeluk Ino erat. Kontol Ino masih tertanam teguh di lubang memek isterinya yang sudah banjir.
”aduh sayang, enak banget…hmms” bisiknya mesra ditengah alur nafasnya yang belum sempurna betul.
”boleh aku mulai lagi sayang?” pertanyaan retoris Ino. Indri tersenyum geli… sesaat ia seperti tersedak..Ino menyodoknya tiba-tiba cepat dan kuat dengan sekali sodok
”Akhh….”
Ino tertawa, satu sodokan kebiasaannya untuk melanjutkan pendakian kenikmatan ragawi itu. Indri mencubit pinggang Ino dengan gemas, mereka tertawa kecil… Sesat kemudian Ino memulai pompaannya, penuh kemesraan dan kasih suami isteri. Hasrat memuaskan itu sepertinya membuat mereka terayum dalam lantunan irama kepuasan terindah. Goyangan Ino sudah penuh dengan perhitungan, ia ingin meledak kuat juga, dan sebisanya Indri juga ikut sekali lagi meledak…
Kontol Ino dengan gagah menancapi setiap relung-relung otot memek Indri. Setiap gesekan ia nikmati dan penuh penghayatan. Di bawahnya Indri dengan bahagia melayani Indri, menyongsong kenikmatan berdua. Ino memang tak banyak menuntut gaya ini dan itu pada isterinya ini. Missionaris position, memang favorit Indri, karena itu Ino pun mengikuti saja. Posisi ini juga memberikan kesempatan Ino untuk mengontrol permainan seperti yang ia inginkan. Indri pun mampu memberikan kenikmatan tambahan, dengan mengkontraksikan otot memeknya saat Ino menojoskan kontol kerasnya. Bisa dibayangkan gesekan kontol Ino pada memek Indri yang ”mengkerett” itu.
”ouh…sayang…” dengus Ino. Ia menundukkan kepalanya mengecup lembut bibir istrinya itu. Nafsunya kian membuncah, membuat kontolnya semakin keras dan membesar lagi, karena aliran darahnya semua terfokus pada batang kenikmatan itu. Indri pun merasakan gesekan kontol suaminya semakin peret… perlahan tapi pasti aliran kenikmatan itu mulai merayapi lagi pembuluh darahnya, begitu cepat karena semua sudah terkondisi tadi, dan masih panas, sehingga sedikit saja rangsangan Ino membuat tubuh Indri bergeletar hebat…

Ino pun sepertinya mulai tak bisa mengendalikan dirinya. Pompaanya menggila, kuat dan cepat, tak ada lagi hempasan dangkal, semuanya dalam. Indri bagai gila menerima hempasan itu. Mereka terengah, gelembung-gelembung kenikmatan memenuhi seisi tubuh mereka. Puncak kenikmatan itu semakin mendekat, namun setiap goyangan Ino bagaikan penantian tiada ujung, membuat mereka bagai putus asa..
”ahhhhh…ohhhh….sayang…” dengus nafas Ino
”aagggggggghhhhh…” Indri tergial-gial, ia sudah di ujung, nafasnya bagai berhenti menerina sodokan kontol Ino di memeknya yang tiada berhenti dan cepat…Ino mengila, ia sudah tak tahan menahan sesuatu yang mendorong-dorong di kontolnya, ia merasakan kontol itu semakin mengeras saja. Ino ingin segera melepaskan dorongan itu, dan ia semakin cepat dan kuat menghantami memek Indri. Indri sudah kehilangan kontrol, menerima sodokan itu, ia pun sudah sedetik di ujung pelepasan orgasmenya sendiri.
Dan satu sodokan terakhir membuat, kontol Ino berkedut kuat, melepaskan spermanya sekencangnya, menerobos liang pembuahan Indri. Semburan kuat itu menembus rahim Indri berkali-kali. Kontol itu terbatuk-batuk, mengangguk di dalam memek Indri. Di lain pihak Indri pun mencapai orgasmenya lagi, lebih kuat dan hebat. Ia mengangkat panggulnya tinggi-tinggi, menahan hempasan Ino, pemandangan yang indah, panggul mereka menyatu erat, mempertemukan kelamin itu erat tak terlepas. Pelepasan yang indah. Dunia bagai berhenti, mereka seperti kehilangan kesadaran sesaat…

Cerita Seks Dewasa Bagian II – Cerita IVO

Ino termangu, menyaksikan Garuda Indonesia itu melesat membelah angkasa. Ada perasaan haru dan kangen yang berlebih disitu.
”selamat jalan sayang…” lirihnya pelan.
Ya, hari ini Indri kembali ke Belanda, mungkin enam bulan ke depan baru kembali lagi. Memang Indri tinggal memasuki tahapan penulisan thesis. Ino melangkah meninggalkan ruang tunggu bandara, berjalan perlahan menuju tempat parkir Picanto-nya. Rencananya ia mau langsung ke kantor saja, tadi dia sudah izin mengantar isterinya itu pada bosnya. Sepanjang jalan menuju kantor Ino terlihat kurang bersemangat. Beda sekali saat tiga minggu lalu saat menjemput Indri di bandara ini. Terbayang percintaan dahsyat mereka selama tiga minggu ini.

Dering ponsel di dashboardnya membuyarkan bayangan percintaannya itu. Dilihatnya nama yang terpampang di layar itu, Ivo.
”Ya, Cinnn, ono opo? Sambut Ino, ia memang sudah biasa memanggil rekannya itu dengan panggilan yang lagi in saat ini, yaitu Cyin..
”No, Udah take off pesawat ”penjagamu” itu? Jam berapa nyampe di kantor? Lagi dimana?” cecarnya.
”bentar lagi nyampe, paling 10 menit lagi, ini lagi di jalanan Cinn…”
”hmmm…gimana ya, ada tugas mendadak, kita bedua sama tim A ditugaskan ke Bandung sekarang…”
”Hari ini? Walah mendadak banget sih, piye sih boss…”
”Yah mana gue tahu. katanya kita perlu menata ulang kantor kita disana. Ya udah deh, lo ke kantor bentar, jemput gua terus antar gue pulang. Gua juga mo siap2 neh…eh lupa pesawat kita jam 2 siang, masih ada waktu 4 jam la buat beres2 rumah….tutttt” telfon itu dimatiin…
”Yah…sialan si Ivo..” Ino mengomel sendiri.

Lima belas menit kemudian, Ivo sudah duduk di sebelah Ino, menuju rumah Ivo. Ditengah perjalanan mereka singgah ke salah satu mini market retail yang cukup terkenal di Indonesia. Ivo membeli beberapa keperluan rumahnya dan beberapa jajanan buat ngemil di jalan nanti.
”pantes wae, kamu berisi kayak gini Vo,” sindir Ino. Tubuh Ivo memang agak berisi,walaupun jauh dari kata gendut. Masih proposional. Ino pun sering sesekali melirik tubuh Ivo kalau sedang bekerja di kantor. Montok, apalagi pantatnya yang bulat menggoda. Yang paling dia suka adalah lengan mulus putih berisi Ivo, ingin sekali ia menggigitnya. Tiba-tiba jantungnya berdegub kencang. Seperti semuanya menjadi terbuka. Dirinya akan pergi bersama Ivo untuk beberapa hari ke depan, dan saat ini ia sedang menuju rumah Ivo. Darahnya berdesir. Ada sesuatu yang terpendam kini naik ke permukaan.

Sepanjang menuju rumah Ivo, Ino terdiam, pikirannya melayang. Kerinduannya pada Indri tiba-tiba beralih kepada jiwa nakalnya lagi. Ia melirik Ivo, sesaat matanya tertuju pada paha Ivo yang gagal tertutupi secara sempurna oleh roknya yang memang dua jari di atas lutut itu, sehingga dalam posisi duduk, mau tak mau, rok itu terangkat lebih tinggi. Ia tersenyum sendiri.
”Kenapa elo ?” tanya Ivo heran.
”Gakkkk…” elak Ino.
”Eh Vo, habis dari sini aku langsung pulang dulu ya, nyiapin barang-barangku dulu, nanti jam 11an, elo jemput aku lagi, sekalian kita ke Bandara, gimana?
”oke boss diriku ngikut aje deh,” sambut Ivo sambil tersenyum. Ia melirik jamnya, sudah menunjuk pukul 10.15 menit.

Sejenak kemudian mereka tiba di rumah Ivo. Ivo membuka kunci pagar rumahnya dan membiarkan mobil Ino masuk di garasinya, karena kalau di parkir di jalan akan menutup sebagaian jalan kompleksnya, sekalian juga kalo Ino mau memutar balik nanti. Ino membantu membawakan barang belanjaan Ivo. Rumah itu sepi sesepi kompleksnya. Suami Ivo masih di Jepang, bekerja di sebuah perusahaan komputer. Rumah Ivo tertata rapi, bersih dan yang pasti harum dan segar. Maklum hanya dia sendiri yang menghuni rumah itu. Ivo memang belum memiliki keturunan.

”Vo, ini bawaan mo ditaruh dimana…” teriak Ino,
”Dimana aja, No.” sahut Ivo dari kamar mandi, rupanya begitu masuk rumah ia kebelet pipis langsung lari ke kamar mandi belakang, yang biasa dipakai oleh tamu kalau sedang berkunjung di rumah itu.

Sesaat kemudian Ino melintas melewai kamar mandi dimana Ivo berteriak tadi, ia menunju ke dapur. Ino sudah hapal tata ruang rumah Ivo, karena ia sudah sering main ke rumah ini. Karena haus, ia membuka kulkas dan mengambil air mineral, dan menuangkannya ke cangkir yang barusan ia ambil di atas rak piring Ivo. Saat ia berbalik, tiba-tiba ia menabrak sesuatu….air minumnya berhamburan, tumpah.

”Ya, ampun Vo, bilang-bilang dong, kalau ada di belakang gue…” kata Ino terkejut, air minumnya menumpah di baju kerja Ivo yang baru saja keluar dari kamar mandi menuju dapur. Alhasil baju itu basah dan menempel di bagian atas tubuh Ivo yang menonjol.
”hihihih…Maaf deh boss,” Ivo tersipu melihat sebagian air yang juga menciprat ke bagian celana Ino.
Namun bukan itu yang membuat pipinya merah, waktu ”bertabrakan” tadi tangannya sempat menyenggol batang kemaluan Ino. Dadanya berdesir hebat. Benda keras kenyal itu sudah lama tak dirasakannya. Sementara Ino sendiri di tengah umpatannya, jantung berdegub kencang, toked Ivo sempat pula tertekan lengannya. Ia menjadi horny, gila pikirnya kok semua menjadi serba kebetulan seperti ini. Kenapa setan men-setting semua ini, tanyanya dalam hati.

”hahahahah….” tiba-tiba Ino tertawa geli sendiri.
”Kenapa elo No?” tanya Ivo.
”Gak…cuma” jawab Ino
”Cuma apa?”
”Cuma, buka baju elo yang basah tu, gua gak enak liatnya,” senyum genit Ino
”Yeee…maunya, mo liat gue gak pake baju?” balas Ivo
”Ya ilaa…gue kan cuma bilang ganti baju, bukan minta elo buka baju di depan gua, tapi kalo elo rela, gua mah suka-suka aja..” canda Ino
”Huuuuuu….maunya, gak cape apa?, habis bertempur sama Indri semalaman…” timpal Ivo
”Lho, kok tau…,”
”Tau aja lah…beneran kan cape” goda Ivo
”Lumayan cape juga sih…” sahut Ino sambil mencolek lengan Ivo cepat.

Mereka berdua tertawa, dan seakan tak mengalami apa-apa, secepatnya berusaha melupakan kejadian sesaat tadi. Padahal mereka merasakan sesuatu yang berdenyut di dada dan di kemaluan mereka, terutama Ino. Ia meneguk sisa airnya. Walaupun suka bercanda, bahkan menyerempet-nyerempet ke hal kenikmatan ragawi itu, namun Ino tak pernah melakukan hal yang berlebihan pada teman kantornya ini. Mereka sudah berteman lama, lebih lama dari usia pernikahan Ino dengan Indri dan sebelum suami Ivo berangkat ke Jepang. Mereka sepertinya saling menghormati dan saling menghargai satu sama lainnya.

Namun kali ini entah kenapa Ino merasakan sesuatu yang berbeda. Ia ingin sekali bercinta dengan Ivo. Ivo sendiri tidaklah kalah kelas dari isterinya. Wajahnya manis imut. Kulitnya putih bersih. Tingginya sekitar 160 cm, lebih pendek dari Indri yang 165 cm. Tokednya, selintas dari luar, bagus. Bayangan Ino, toked ini bulat membusung padat. Tadi ia sudah merasakan kepadatan toked itu. Betis dan paha Ivo sangat proporsional. Mungkin kalau ia lebih dulu kenal dengan Ivo, mungkin sudah menjadi TO-nya.

Sementara Ivo, pun sebenarnya sejak mengenal Ino lebih dekat, merasakan ada kehangatan luas dan feeling kejantanan yang tebal milik Ino. Ia bisa membuktikan dari tata cara Indri selama ini. Wanita itu begitu puas dengan Ino. Sekelumit rasa siriknya, ketika selama tiga minggu ini, ia tidak bisa berkeluh kesah bercerita lama dengan Ino, sebab waktu temannya ini sudah tersedot habis untuk melayani Indri. Dan saat malam yang dingin menusuk, di kamarnya Ivo sering membayangkan pergumulan mesra mereka berdua, yang membuatnya semakin tersiksa dan melampiaskannya dengan memungut dildo kesayangannya dan phone sex dengan suaminya. Itupun kalau Johan, suaminya tak kelelahan bekerja. Ivo sendiri tak mau bermain api dengan yang lain, selain beresiko dan tak bisa dipercaya, ia sendiri sepertinya hanya berharap pada satu pria, yaitu Ino. Sesaat mereka sama-sama tertegun, sampai akhirnya, Ivo meminta tolong Ino untuk mengambilkan kopernya yang berada di atas lemari di kamarnya.

”Kamar Ivo…” jantung Ino kembali berdegup…
”ohh…setannn, apalagi ini…” jeritnya dalam hati. Selama ini Ino memang belum pernah masuk kamar Ivo. Ino menganggap kamar tidur adalah wilayah yang sangat pribadi. So kesempatan masuk ke kamar Ivo, merupakan sinyal tersendiri kah? Aduh Ino menghayal kegilaan apa yang akan ia lakukan bersama Ivo di kamar itu.

”Hoi !..dimintai tolong malah bengong…” Ivo membuyarkan hayalan Ino.

Ino cengengesan saja. Lalu mengikuti langkah Ivo memasuki kamarnya. Dari belakang tubuh Ivo bergoyang lembut, bokong indah Ivo bagai tangan bidari melambai memanggil dan mengasapi birahinya. Ino mengusap wajahnya sendiri. Menahan semua gemuruh di dadanya, menahan kontolnya yang mulai berdenyut.

”ini cuma hanya hayalanku saja,’ teriaknya dalam hati mencoba membunuh gelombang nafsunya.

Namun sejuk hawa penyejuk ruangan dan semerbak wangi kamar Ivo, bukanlah hayalan. Itu nyata, kelembutan wangi ini begitu menggoda, aroma orange blossom yang berpadu dengan dinginnya AC kamar memang membuat libido meningkat cepat. Rupanya Ivo menggunakan wewangian ini di kamarnya. Indri sendiri lebih suka wewangian clove atau cardamon, yang ia percaya mampu memompa energi seksualnya ke tingkat tertinggi.

”Hmmm kamu suka orange blossom ya?” ujar Ino akhirnya.
”Hehehe…iya. Enak banget, kamu suka…” balik bertanya Ivo.
”Sukaa, itu kan bagus buat kamar suami isteri, katanya sih bisa buat libido naik ya” jelas Ino.
”Mungkin juga,” bales Ivo singkat. Ia merasa melayang mendengar kata ”libido naik”. Aduh, Ivo merasa denyutan di dadanya meningkat lagi.

”Eh, eh.. eit….” Tiba-tiba Ino hampir terjatuh dari kursi saat mengambil koper. Koper itu ia tahan di atas kepalanya. Badannya terhuyung ke depan. Untung ia tertahan tubuh Ivo sehingga tak jadi terjerumus, dan sekali lagi, Ino menyentuh toked Ivo, namun kali ini bukan tangannya, tapi dadanya.

”Yah…kena deh,” tanpa sadar Ino berseloroh..
”Uuu, maunya kamu….” jawab Ivo sambil terkekeh dan mencubit dada Ino. Ino tergial ”Ampun… Jangan Vo…geli tau…” teriaknya. Ino memang paling gak tahan dicubit di bagian pinggang atau dadanya.
”Hahaha…gitu aja geli, gimana kalo….” balas Ivo menyetop kata-katanya. Selintas tadi ia sempat merasakan dada kencang yang menompang bahu lebar milik Ino, menekan tokednya, sedikit menggesek putingnya.
”Kalo…apa?” balas Ino cepat.
”Gak ah…gak jadi….sini kopernya,” Ivo membebaskan dirinya dari pertanyaan Ino. Untung Ino tidak ngotot mengejarnya. Karena tadi sebenarnya Ivo ingin mengatakan ”apalagi kalau dihisapi..hihihihi.” Ivo tersenyum sendiri di tengah rasa putus asa yang aneh.
”Udahan nih?, ada lagi yang mo saya angkat-angkat atau banting-bating?” Tanya Ino berseloroh.
”Hmmm kayaknya udah deh,” ujar Ivo, sambil menyambar koper dan meletakannya di sisi kanan ranjangnya.
”Eh. No, bukannya kalo ke bandara itu sejalur sama rumah elo. Gimana kalo elo tungguin aku kelar beresin perlengkapanku, terus baru kita ke rumah kamu, kan itu sekali jalan, dari pada elo pulang dulu, terus balik lagi kesini, kan ribet, piye boss?” Usul Ivo.
”Hmmmm….iya ya. Boleh lah, terus aku ngapain dong disini..ini baru pukul 10.40.” rengek manja Ino dibuat-buat. Ivo tersenyum geli
”Udah, bobo sana..elo ngantuk kan, pastinya itu” ujar Ivo sambil menunjuk kasur Comforta-nya. Ia tersenyum genit.
”Boleh kah?,” Tanya Ino, dadanya berdegub untuk kesekian kali, mendengar kata ’bobo’. Memang Ino terlihat ngantuk, semalaman ia bercinta gila-gilaan dengan Indri. Percintaan perpisahaan, hehehe. Tiba-tiba kontolnya berdenyut aneh.
”Yo, wis, terserah kamulah, tapi menurut aku nih, lebih baik disini, kapan lagi elo tidur di atas kasur gue, jarang-jarangkan…” kata-kata itu meluncur saja dari mulut Ivo.
”Hehehe… iya juga sih…. yo wis…” Ino merebahkan tubuhnya di sisi kiri kasur empuk itu.

Sisi kiri ranjang Ivo, menghadap ke pintu kamar mandi pribadi di kamar itu. Sejenak, Ia sempat melirik Ivo yang tengah memberesi pakaiannya. Wanita ini semakin terlihat menggoda saja. Apalagi Ivo sudah mengganti baju kerjanya dengan pakaian kesukaannya, baju tanpa lengan. Lengan putih itu membuat Ino pusing. Apalagi di tambah dada montok Ivo yang menyembul sedikit, mengintip diantara lengan itu.
”Aih pasukan iblis dan setan tengah mengerubungiku..” bisik Ino dalam hatinya. Namun semua itu kalah oleh rasa kantuk Ino, yang membiusnya. Ia tak mampu menghadapinya. Tak lebih dari 5 menit ia tertidur, terlelap bagai bayi. Ivo Tersenyum melihat rekan kerjanya itu. Entah ia merasakan sesuatu, melihat wajah itu. Mungkin rasa senasib, ditinggal pasangan masing-masing dan LDR, membuatnya merasakan empati.
”Ah, lupakan semua, let if flows..” ujarnya dalam hati mencoba membantah kebutuhan alami kewanitaannya.

Kopernya sudah siap, tinggal mandi dan makan siang. Ino masih terlelap. Ivo memutuskan untuk menyiapkan makan siang, memanaskan lauk yang siap sekali santap. Ivo mempersiapkan semua sendiri. Ia tak memakai tenaga pembantu. Santap siang sudah siap, Ivo lalu memutuskan untuk mandi saja, pukul sudah menunjukkan angka 11.15. Ino masih terlelap di kamarnya. Ivo memutuskan untuk menggunakan kamar mandi di kamar tidurnya saja. Toh Ino masih terpulas. Lagian, kalo dia mandi di kamar mandi luar cukup repot karena peralatan mandinya semua berada di kamar mandi di kamar tidurnya dan yang pasti di kamar mandi belakang tidak ada bath up nya…hehehe

Sesaat kemudian Ivo sudah berendam di bath up kamar mandinya. Tubuh padat berisi itu, tertelan rendaman air hangat beraroma bunga mawar. Ivo memang sangat suka berendam paling tidak setengah sampe satu jam ia berendam… Ia memejamkan matanya menikmati kehangatan air di tubuhnya. Lima belas menit kemudian, ia mendengar suara Ino. Rupanya Ino sudah bangun. Spontan ia berteriak..
”No, kalo elo mo makan, ambil aja di meja makan, sudah siap…”
”Eh… iya… lho lagi mandi ya?” bales Ino, sambil ngulet,,,,uah enak sekali tubuhnya, terasa segar, ia tidur lelap hampir satu jam.
”Yoi. lho kalo mo sekalian mandi, pakai aja kamar mandi belakang…”
”Oke deh….” teriak Ino. Lalu tiba-tiba dengan iseng ia bertanya
”Eh, Vo, kalo gue mandi bareng disini saja gimana, hahahaha”
”Aih..enak di elo-nya…” bales Ivo terkekeh.
Ino akhirnya bergerak ke dapur, perutnya laper banget. Dari pagi tadi ia baru sempat makan sepotong roti dan secangkir susu. Ia menuju meja makan, di bawah tudung saji, ia melihat tempe goreng, sambel terasi dan sayur katu bening. Wah ini makanan kesukaanku. ”Tau saja nih orang,” ujarnya senyum-senyum sendiri. Sepuluh menit kemudian ia telah selesai makan. Lima menit selanjutnya ia berniat mandi, biar tidak repot lagi di rumahnya, tinggal beresin koper, langsung cabut ke Bandara S*B.

Saat masuk ke kamar mandi, Ino teringat, ia gak punya handuk. Ino yang sudah bertelanjang dada itu berniat mencari handuk di kamar Ivo. Tapi, percuma gak bakal ketemu deh…
”Vo, elo betah amat di kamar mandi, ngapain sih?” tanyanya.
”Mau tau aje,” bales Ivo
”Bukannya gitu, gue mau mandi neh, tapi gak ada handuk… dimana handuk yang bisa gue pake…” teriaknya lagi
”Yah, Lo cari di lemari tempat koper tadi, pintu yang sebelah kanan sekali,” Ivo memberi petunjuk. Ino pun mencari-cari, tapi gak ketemu, yang terlihat malah kotak dildo, isinya gak ada….hehehe. Ino tersenyum geli.
”Gak ada Cyinnn…”
”Yo, wis, aku cariin, tapi elo keluar kamar dulu,”
”Ngapain keluar…”
”Akunya mo keluar, Inoooo…lo mo liat gue bugil ya” teriak Ivo, dadanya bedegup kencang, karena terangsang kalimatnya sendiri.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Ivo keluar dengan hanya berbalut handuk yang hanya menutup sebagian pantat dan dadanya saja, akibatnya buah dada putih halus yang montok itu menyembul. Handuk itu kekecilan, karena itu ia harus memeganginya dengan tangan kirinya, biar tak melorot. Tubuh Ivo masih mengkilat karena air yang masih melekat. Ivo sedikit terkejut karena Ino ternyata hanya berdiri di dekat pintu masuk kamar, tapi tidak keluar beneran dari kamar. Otomatis mata Ino menikmati tubuh montok nan mulus rekannya itu.
”Yeee… dimintai tolong keluar malah melotot gitu…” Ivo pura-pura marah. Karena sebenarnya ia cukup tertegun melihat dada bidang nan keras milik Ino, yang tadi sempat menekan tokednya.
”Hehehe, maaf Cyin…” ujar Ino cengengesan. Nafas Ino tersentak dan jantungnya berdegub lebihkeras. Setan dan iblis menari-nari lagi.
”Ayo, No kapan lagi… ini kesempatan, lagian Ivo, sepertinya tak akan menolak…” rayu setan dan iblis bergantian.
”Nih, handuknya…”
Ivo menjulurkan tangannya, tadinya ia ingin melemparkan handuk itu ke kasurnya saja, tapi entah kenapa, ia urungkan niatnya itu. Ino mendekat, menuju tubuh basah itu. Setan dan iblis kembali berlonjak-lonjak…”ayo Ino, hajar…” teriak mereka ramai-ramai. Ino bergerak mengambil handuk itu, jarak semakin dekat, hanya satu lengan saja. Ino gemetar menahan nafsunya. Karena semua semakin terbuka lebar, tanpa ada penghalang lagi. Ia mengambil handuk itu, perlahan. Sementara Ivo, dalam keinginannya dan empatinya merasakan sesuatu merasuk di dadanya, di dalam kamar mandi tadi ia sempat berkhayal dicumbui oleh rekannya itu, yang membuatnya horny sendiri. Dan Ino, kini berada dihadapannya dengan telanjang dada dan dia sendiri, tubuhnya hanya tertutup handuk belaka!.

”No…Vo” mereka berbarengan memanggil nama masig-masing.

Ino mendekatkan tubuhnya. Handuk untuk Ino masih dalam genggaman mereka berdua, belum terlepaskan. Ivo tak berusaha untuk mundur. Situasi yang ’sesuatu banget”. Entah kenapa Ivo menginginkan sesuatu yang sulit ia ungkapkan. Hanya dengan satu tindakan saja, semua bisa berubah arah menjadi sebuah amukan asmara yang panas dan gila. Ino pun dalam hormatnya kepada Ivo, dan keraguan tindaknya mengharapkan juga sesuatu yang tak terungkapkan pula. Detik berikutnya, Ino menundukkan kepalanya mencoba menggapai bibir Ivo. Ivo sadar dan mengetahui itu, ia pun dapat mengira arah semua gerak Ino, ia tidak membantah atau menolak. Rupaya setan sudah memenangi dirinya. Gejolak di dadanya hanya dibatasi handuk yang memilit tubuh gemetar menahan gairah itu belaka.

Ino pun mulai buta, mungkin hasratnya itu tumbuh karena dia merasa mereka sama dalam kondisi ”ditinggalkan”. Ego kelelakiannya memuncak, ia melupakan dahsyatnya percintaan semalam bersama Indri. Di matanya saat ini, ada wanita dewasa bertubuh putih montok mulus, yang juga menginginkannya juga. Bibir Ino semakin mendekat, ke wajah Ivo, namun sesaat bibir itu tiba-tiba berbelok ke arah telinga kanan Ivo. Ia membisikan sesuatu.

”Kamu tau akhir semua ini akan kemana Vo?” tanyanya menyakinkan diri. Ia tak mau menyakiti teman yang sudah hampir tiga tahun ini menjadikan dirinya sebagai tumpahan keluh kesahnya itu. Ivo tak menjawab. Ino menyimpulkan itu berarti ”ya”. Maka, perlahan tapi pasti Ino menempelkan pipi kirinya ke pipi kanan Ivo, bergerak halus menyusuri sebelum akhirnya berhenti di tepi bibir Ivo. Ivo menahan nafas, matanya terpejam. Menikmati gesekan pipi dan ujung sisi bibir Ino di pipinya. Ia tegang sekali, laksana kali pertama ia menerima kecupan dari seorang laki-laki. Ia sedikit tersengal. Ia sendiri sudah sangat ingin merasakan bibir gagah Ino menyentuh bibirnya, hanya rasa ”tengsin” sedikit saja yang tersisa, yang membuatnya tidak menarik Ino, dan menghisapi bibir rekan kerjanya itu.

Sesaat kemudian, dengan penuh perasaan Ino mengecup bibir itu pelan sekali, penuh rasa hormat. Bibir itu kenyal lembut. Halus sekali. Sedikit berbeda dengan bibir Indri. Ino melepaskan kecupan ringkas itu. Menarik kepalanya sedikit memastikan Ivo telah menerimanya. Satu kecupan lembut lagi ia daratkan di bibir bawah Ivo. Ivo bagaikan melayang….semua terjadi. Aroma orange blossom menjadi kipas yang membuat api asmara terlarang ini semakin membesar tak tertahan dan membesar…

Rasa tengsin Ivo tiba-tiba lenyap seketika di akhir kecupan ketiga Ino. Ivo mulai berani membalas, meski dengan irama yang masih lambat dan teratur. Mereka menikmati kecupan yang mulai berubah perlahan menjadi sedotan dan hisapan itu. Bibir Ino bagaikan ditarik masuk kedalam lipatan bibir Ivo, kala wanita itu menghisap bibirnya. Mereka berpagutan tiada henti, melepaskan semua hasrat terpendam yang selama ini mereka tahan dan malu untuk diakui. Semua bebas dan lepas, termasuk gengaman handuk di tangan Ivo, sementara handuk di tubuh Ivo semakin sulit dijaganya. Karena tangannya sudah tak tahan ingin memegang lengan keras dan pipi Ino.

Pilihan yang sulit, jika ia melepas handuknya maka ia akan segera bugil di hadapan Ino. Ah…Ivo tak perduli… ia lepaskan tangannya pada handuknya…. Tangan Ivo bergerak meraih tubuh telanjang itu, merapatkan tubuhnya. Ino mendengus, saat tubuh mereka berdekapan, lidah dan bibir mereka berpilin. Saling jilat dan hisap. Nafas mereka mulai tersengal karena hisapan tiada henti dan berganti-ganti itu. Toked Ivo kembali bersentuhan dengan dada keras Ivo, kali ini tanpa penghalang apapun! puting toked Ivo segera mengeras akibat bergesekan dengan dada Ino. Nafsu itu mulai menggelung syaraf dan pembuluh darahnya.

Ino masih sabar memainkan bibir dan lidahnya pada bibir Ivo. Ia begitu menikmatinya. Ino belum berniat memindahkan bibirnya ke area tubuh lain milik Ivo. Baginya bibir itu memberikan sensasi tersendiri, tidak tipis, tidak pula terlalu tebal. Hangat dan lincah. Hanya tangannya mulai bergerak, turun dan mengusapi dan meremas pantat kejal Ivo. Di lain pihak, beda halnya dengan Ivo, ia sudah sangat ingin bibir Ino menjelajahi tubuh halusnya. Tubuh halus nan mulus yang selalu dirawat di spa terbaik di kotanya itu, begitu haus sentuhan tangan dan bibir laki-laki. Ivo menginginkannya, namun ia masih ragu meminta. Bagaimanapun ia masih bisa menjaga untuk tidak mengemis pada Ino.

Namun demikian Ivo tak tahan, untuk menyamakan skor, tubuh Ino harus bugil juga pikirnya. Maka tangannya pun bergerak menuju gesper dan melepasi kaitan celana kerja Ino, karena kainnya berbahan katun mudah saja celana itu melongsor dari pinggang Ino. Tinggal cd ala boxer milik Ino yang menggantung disana, dengan tak sabar Ivo pun melorotkannya, sembari menurunkan cd Ino dengan tangannya Ivo menciumi dada dan perut Ivo, sampai akhrinya ia berhenti tepat di depan kontol Ino, yang mulai begerak-gerak naik.
”Ouhnnn No,” ujarnya pelan begitu melihat barang milik berharga lelaki itu. Sudah lama ia tak melihat benda semacam itu. Tak sabar ia memegang dan meremas kontol Ino, Ino tergial.
”Aku kangen dengan benda ini, No” desis Ivo. Sesaat ia ingin mengulum benda itu, tapi Ivo menarik tubuh Ivo ke atas, mengurungkan niat Ivo. Kembali, mereka berciuman dahsyat. Hisapan Ino dan Ivo bagai vacuum penyedot debu. Hanya kepandaian mereka memainkan irama dan nafas yang menjadikan ciuman itu berayum lembut. Sesekali Ino menggerakan bibirnya melumati leher dan pundak Ivo.

Entah siapa yang bergerak duluan, mereka kini bergulingan di atas kasur Ivo. Ino berusaha mengecupi dan menghisapi buah dada Ivo yang membusung. Sementara tangannya bergerilya menyusuri toked, perut dan mengusap pantat montok itu. Ivo menggeliat kesana kemari. Permainan yang tak direncanakan ini, memabukkannya. Ia lupa masih isteri sah suaminya, Sundono.
”Auch,,,,” teriaknya tertahan kala jari Ino menyentuh klitorisnya dan lidah Ino memilin puting susunya. Tak tahan lagi, Ivo meremasi lagi kontol Ino, Posisinya yang berada di bawah memudahkannya meraih kontol itu, sembari menikmati hisapan dan jilatan lidah dan usapan tangan Ino di setiap bagian tubuhnya. Bagi Ino semua itu indah. Tak lupa keinginannya untuk menggigit lengan putih Ivo ia lampiaskan. Ivo tergial…
”Hadueh….emms” desahnya.
”No, gak usah lama-lama, aku sudah gak tahan…” rintih Ivo.

Ino tersenyum, wanita ini memang sudah benar-benar kehausan. Sementara api nafsunya sudah sangat membara. Ino harus bertanggung jawab mematikan api itu dengan air suci dari kontolnya…
”Kamu memang siap dan rela, Vo” pertanyaan konyol Ino di telinga Ivo
”Inooo…kamu gila, aku sudah begini masih ditanya…”
Ivo mendorong tubuh Ino, sehingga tubuh itu terlentang. Ino terkejut mengira Ivo marah, namun sedetik kemudian, ia sudah ditindih tubuh hangat nan mulus itu. Sejenak kemudian ia merasakan lembut jemari Ivo sudah kembali membelai kontolnya, dan entah bagaiaman Ivo sudah memposisikan dirinya mengangkangi Ino. Kepala kontol Ino yang sudah mengeras itu, diarahkannya ke mulut memeknya.

”Kamu emang sudah gak tahan ya, Vo” ledeknya. Ivo terkekeh
”Kepalang basah No, kamu suka juga kan,…” jawab Ivo penuh nafsu.

Lalu perlahan tapi pasti ia mulai menekan memeknya ke bawah, mencoba agar kontol Ivo membelah dan membobol memeknya. Agak sulit, walaupun memek Ivo sudah basah sekali. Sesaat sebelum memek Ivo menelan kontol keras Ino, tiba-tiba saja, entah apa sebabnya, tiang besi untuk gantungan jaket di sisi ranjang terjatuh. Hempasannya menimpa meja hias Ivo yang berada diujung kaki ranjangnya.
”Pranggg,,,,,,” kaca meja itu berantakan. Sontak sejoli yang tengah mabuk bercinta itu, terlonjak kaget dan menghentikan ”kegiatan” mereka. Mereka saling memandang, entah kenapa ada perasaan apa, dengan tiba-tiba mereka menjadi ragu untuk melanjutkan kenikmatan ragawi ini. Mereka tertegun sesaat. Kepala kontol Ino masih dan hanya menempel di mulut memek Ivo. Kekagetan itu sentak membuat kontol Ino melemah dan di saat bersamaan tensi nafsu Ivo menurut cepat.

”No, aku memang memang menginginkannya, tapi ini gila ya….”
”Gak papa Vo, mungkin kita belum saatnya…iya kita memang gila” mereka tertawa.
”Kamu gak marah kan?” tanya Ivo, di bawahnya, kontol Ino mulai melemah.
”Gak lah, Vo… kamar dan ranjangmu mungkin belum siap ya, melihat tubuh pemiliknya ditiduri lelaki yang belum mereka kenal,” selorohnya, mereka tertawa lagi.
”Iya kali ya… harusnya minta izin dulu…Makasih, No, kamu memang temen gua yang paling paham…” Ivo membanting tubuhnya ke samping Ino. Dadanya turun naik. Ino menyaksikan tubuh mulus itu, penuh nafsu. Ia ingin menghajar tubuh itu, tapi rasa hormat dan kedewasaannya menahannya. Lagian kalo dia memaksa, statusnya menjadi perkosaan dong….Setan yang sedari tadi sudah menabuh genderang dan menari-nari bubar dengan sendirinya.
”Yang gua takut, elo nya yang nanggung,” Ino tulus menyelidik.
”Gak, ah….iya sih…” jawab Ivo lemes, ia menarik bed covernya, menutup tubuh telanjangnya.
”Tapi, Vo, paling gak kita sudah tahu satu sama lain kan?” ujar Ino sambil menarik handuknya tadi menutupi bagian bawah tubuhnya. Kontolnya sudah kembali lembek.
”Ya, paling gak itu….” balas Ivo tersenyum. Terus terang ia cukup senang, ternyata keinginannya ternyata sama dengan yang dirasakan oleh Ino. Selama ini memang Ino, cukup bisa menahan diri untuk memasuki alam liarnya menjadi nyata. Ino memang menjadi objek hayalannya. Wajar sih, bagi perempuan manapun yang pernah merasakan memeknya dimasuki kontol, pastinya merindukan untuk mengulangi dan merasakan lagi benda kejal keras itu. Berpetualang dengan Ino, bagi Ivo merupakan kenyamanan tersendiri tanpa harus takut dengan rasa was-was dan tuntutan berlebihan. Dan entah kenapa ia yakin Ivo mampu membuatnya melayang jauh menembus awan orgasme tingkat tertinggi.

Kini, mereka berdua terdiam, berpikir bahwa masih ada harapan ke depan, bagi mereka untuk menuntaskan gairah duniawi itu. Mereka tertawa lagi, merasakan suatu, ya cukup aneh dan lucu, mereka bisa menahan diri, sementara kenikmatan itu sudah mereka rasakan sebegitu sudah jauhnya. Dalam keheningan itu, tiba-tiba dering ponsel Ivo berbunyi,
”Iya, Jok, ada apa?…apa?, dipercepat? jam berapa..jam satu, ya ampun….” Ivo segera mematikan ponselnya dan terlonjak.
”Pesawat kita dipercepat satu jam No….”
”Gila…berarti satu jam lagi dong.” jawab Ino. Lalu bagai kesetanan tanpa diperintah, mereka berhamburan ke kamar mandi (masing-masing). Ada untungnya tiang gantungan baju tadi terjatuh, kalau tidak mereka bisa terlambat. Lima belas menit kemudian mereka sudah meluncur ke rumah Ino. Ivo sendiri memakai make up di dalam mobil Ino. Tepat pukul 12.50. Mereka sampai di Bandara. Panggilan penumpang menuju Bandung pun terdengar.

………………………..

Kaki Ino baru saja masuk di gedung Bandara HS, Bandung, ketika ponselnya berdering. Sebuah SMS masuk…
”Kakak, ke Bandung gak bilang-bilang….” rangkaian kalimat isi SMS itu. Ino kaget, ini SMS dari Yuyun. Yuyun memang sudah selesai magang di kantornya, sekitar sebulan lalu. Sejak pergumulan terakhir mereka di kontrakan Yuyun, seminggu sebelum Indri tiba dari Belanda , mereka memang belum juga melakukan komunikasi. Yuyun dan Ino memang sudah sepakat, hubungan mereka tak lebih dari sekedar hubungan singkat, tanpa tuntuan apa-apa. Ino sendiri agak menyesal, Yuyun begitu tulus melepas barang paling berharga miliknya untuk ia nikmati. Gadis manis itu, sebenarnya memiliki aura tersendiri, selain memiliki perawakan indah, ia rajin dan pintar. Ino yakin Yuyun bakal sukses meraih cita-citanya.

”Aduh maaf Yun, eh kamu tau dari mana Kakak ke Bandung,” Ino membalas SMS Yuyun. Ia sudah berada di ruang tunggu di bagage claim, yang semakin penuh oleh penumpang.
”Yeee… ada deh, pokoknya.” bales Yuyun
”Ya deh maaf, gak bilang-bilang, soalnya mendadak,”
”oooo… iya ini Yuyun lagi kantor Kakak..”
”Ngapain?”
”Nganterin laporan, sekaligus mo minta rekomendasi, Yuyun diterima magang lagi di Jepang, jadi butuh rekomendasi dari tempat magang di kantor Kakak juga…”
”Haduh selamat deh Yun, bener kan kata Kakak, kamu itu pinter…”
”Hehehehe….” bales Yuyun, sambil tersenyum.
”Kakak kalo ke Bandung sempatkan maen ke Sor**g dong, disana ada Kakak-ku. Ntar aku kontak dia” SSM Yuyun lagi.
”Gak janji ya, ntar kalo sempet, oke ntar kita ngobrol lagi ya” Bales Ino, Ia memasukan ponselnya ke saku celananya, dan segera menyambar kopernya yang diantarkan oleh Andi, staf tim A yang ikut ke Bandung. Mereka menuju parkiran, disana sudah menunggu dua orang satu cewek dan satu cowok, sepertinya staf kantor cabang di Kota Bandung.
”Pak Ino dan Ibu Ivone?” tanya mereka ramah. Ino dan Ivo mengangguk.
”Ya…”
”Kami yang menjemput Pak, silahkan Pak, ” mereka membuka pintu mobil, sekalian memindahkan koper kapi ke bagasi. Akhirnya mereka berenam melaju meninggalkan Bandara.
”Bapak, Ibu, menginapnya di mess kita saja kan? semua sudah disiapkan,” kata si cewek, yang dari name tagnya bernama Yulia.
”Iya, kantor pusat memerintahkan seperti itu juga kok,” sahut Ivo.

Kurang lebih setengah jam, mereka tiba di Mess. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore lebih. Mess terlihat sepi, karena memang mess ini dipersiapkan untuk para tamu, atau pegawai pusat yang datang ke Bandung. Bangunan utama adalah gedung dua lantai, masing-masing lantai ada 10 kamar. Ada pula gedung tambahan, yang letaknya berhadapan dengan bangunan utama. Gedung ini hanya terdiri dari empat kamar khusus, yang diperuntukan bagi tamu atau para pejabat perusahaan,. Dua gedung ini dipisahkan oleh taman dan kolam yang cukup luas, sehingga aktivitas di gedung tambahan, selintas tak akan diketahui oleh orang yang menginap di gedung utama. Mess ini cukup enak ditinggali, selain hijau dan sejuk, jaraknya cukup jauh dari jalan besar, sehingga kalau ingin istirahat sangat cocok, jauh dari hiruk pikuk Kota Bandung.

Ino dan Ivo ditempatkan di gedung tambahan, kamar mereka bersebelahan, dan ada connecting doornya.
”hmmm….apa pula ini,” ujar Ino tersenyum, kontolnya berdenyut lagi, mengetahui dia dan Ivo di kamar bersebelahan dan ditempatkan terpisah dengan tim Joko, yang ditempatkan di gedung utama.
Ino melirik Ivo, mereka mengangkat alis berbarengan sambil tersenyum. Sebelum masuk ke kamar masing-masing, mereka diingatkan oleh timnya Joko, bahwa pertemuan dengan staf perusahaan akan dimulai jam 08.30 malam. Joko menambahkan, ia dan timnya akan segera tempat pertemuan untuk mensetting tempat dan bahan pertemuan. Ino setuju dan sepakat bertemu setengah jam sebelum pertemuan di mulai.
”selamat istirahat Pak, sampai nanti malam” ujar Joko, sembari meninggalkan kamar Ino.
”Makasih, Jok, oke sampe ketemua” balas Ino.

Selepas Joko pergi, ino langsung masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Kasurnya empuk, lembut dan pegasnya mantap.
”hmmm….mantap untuk,….” Ino membayangkan Ivo di bawah tubuhnya tergial-gial. Kontolnya berdenyut. Apalagi sepanjang perjalanan, di dalam pesawat, ia yang duduk bersebelahan dengan Ivo, harus mampu berjuang menahan rasa penasaran ’pergumulan yang terputus itu”. Sialnya, karena buru-buru mereka mendapatkan tempat duduk di kelas ekonomi, dan bersebelahan dengan tim Joko. Otomatis, mereka harus jaim sepanjang satu jam perjalanan itu. Satu jam dalam pesawat yang terasa lama menyiksa.

Di kamar sebelah, Ivo langsung melepasi kostumnya, meninggalkan cd dan bhnya saja. Tubuh itu memang mempesona, toked kencang bulat mulus, bokong tegas, menantang jemari laki-laki normal untuk meremasnya. Ivo menuju kamar mandi, membasuh mukanya dan membersihkan sisa make-up. Ia terlihat manis tanpa make-up. Bibir sedang itu merekah merah. Ia memandangi tubuhnya di depan cermin. Ia tersenyum, dadanya bergetar, teringat tadi bibirnya dihisap Ino. Ia ingin mengulanginya. Ia ingin meminta, tapi entah kenapa ia menjadi ragu dan malu, bak perawan di malam pertama perkawinannya. Ditengah kegalauannya ia melangkah menuju connecting door, dan membuka pintu itu. Pintu itu ternganga. Hanya bagian Ino, yang masih tertutup. Ia termangu ingin sekali mengetuk pintu itu.

Disebelah Ino, menekan nomor telefon, mencoba menghubungi Ivo. Dibanding Ivo, Ino, setelah kejadian itu justru semakin berani dan bernafsu menyetubuhi rekannya itu. Baginya, perempuan itu telah memberikan sinyal yang sangat luas dan besar untuk saling memberikan kenikmatan. Ia tak peduli itu hanya nafsunya. Toh, Ivo pun, sebenarnya juga menyalakan nafsunya sendiri. Wanita itu pun sudah ”rela” dinikmati oleh dirinya.
”gayung bersambut,,,,tunggu apalagi…” setan membisiki Ino.

”Ya, hallo…..” Ivo setengah terkejut mendengar dering telefon dan langsung mengangkatnya.
”Hallo….Vo, Ino nih…”
”Eh… ada apa boss” Ivo mencoba menahan dirinya ketika tahu telefon itu dari kamar sebelah, laki-laki yang kontolnya nyaris tertelan memeknya tadi siang.
”hmmm,…..” Ino terdiam sejenak, Ivo sabar menunggu, namun selintas ia mendengar dengus nafas tertahan dari seberang.
”Vo, mo jalan gak?” tiba-tiba kalimat itu yang keluar dari mulut Ino, padahal tadi ia sudah merencanakan untuk ke kamar Ivo, pura-pura menanyakan rencana pertemuan dengan staf perusahaan malam nanti. Ivo kecewa mendengar pertanyaan itu. Ia berharap Ino mengatakan sesuatu yang lebih ”penting”.
”Males, ah, cape. Aku mo tidur-tiduran saja,” jawabnya
”hmmm….beneran? sebenarnya aku juga males jalan,’ balas Ino.lalu ia terpikir sesuatu
”hmmm, Vo kamu bawa kopi luwak gak?” tambah Ino.
”Bawa. Mo aku anterin?” tawarnya. Tanpa menunggu persetujuan Ino lagi, Ivo menuju connecting door, dan mengetuk pintu itu. Ivo merasa ia punya kesempatan tanpa harus ”kehilangan muka” untuk membuka pintu itu. Di sebelah Ino terlonjak gembira. Ia membuka pintu itu. Ivo sudah berdiri dengan tangan memegang sebungkus kopi luwak sachet.
30 menit kemudian…
Perlahan tapi pasti memek Ivo terbelah, dan mulai menelan dengan hangat dan kesat kontol Ino. Ino merasakan otot memek yang kejal, hangat dan basah. Sungguh nikmat. Memek ini memang masih ”asli” hanya berapa kali saja –dalam setahun– dilewati kontol suaminya, dan tentu saja jepitannya masih mantap, karena belum pernah melahirkan.
”Ohhhhhhh…”. leguh Ivo matanya terpejam, bibir mengatup…. kepalanya mendongak.

Sementara Ino tergial geli di bawah hujaman Ivo. Satu hentak terakhir membuat kontol Ino tertelan habis. Jembi keriting indah milik Ivo bertemu dengan bulu kasar milik Ino. Ivo menghempaskan tangannya dan tubuhnya ke depan. Ia merasakan tubuhnya melayang.
Memeknya berkedut menjepit kontol Ivo. Ribuan keresahan dan rasa penasaran Ivo melayang jauh. Ivo ingin mengoyang panggulnya tapi Ivo merasa tak kuat, hanya beberapa kali menggoyang akhirnya ia memohon…
”Plis, No…aku sudah gak kuat…” suara lemah dan mata sayu itu membuat Ino merasa tertantang dan bangga.
Ia lalu membalik tubuh montok kencang itu, hingga Ivo terlentang, selintas Ino melihat toked rekannya itu membusung, sedetik kemudian ia membentangkan paha muluh itu. Mengarahkan kontolnya yang mengacung keras ke mulut memek yang sudah melelehkan cairan hangat. Ivo terdiam, jantung bedetak kencang, nafasnya seakan berhenti menanti, kontol Ivo yang berurat itu menembus memeknya. Terasa begitu lama penantian itu. Memeknya terasa semakin gatal, ingin digesek-gosok kontol Ino.
”,,,,No,” leguhnya sambil menarik pantat Ino. Ia benar-benar tak sabar, permainan yang terputus tadi siang, membuatnya gusar. Memeknya seakan selalu gatal dan basah, membuatnya resah. Sebaliknya Ino pun tak kalah penasarannya. Apalagi, saat ini, mereka sudah saling paham dan mengerti, tak ada halangan lagi. Tinggal mengarungi kenikmatan ini sepuasnya tanpa batas. Kenikmatan ragawai yang seakan-akan telah disetting sedemikian rupa oleh tangan-tangan tak terlihat. Ino tak mengerti dan tak mau mengerti, ia ikuti saja settingan itu.

Ino memompa dengan kecepatan datar, memainkan tusukan 9 pendek satu panjang. Dengan pola ini, membuat Ivo gila, karena ia merasa dipermainkan oleh Ino. Kontol itu seakan-akan hanya menggesek mulut depan memeknya saja. Kenikmatan itu mengayun-ayun. Namun karena ia memang sudah sangat ingin dimasuki, perlahan tapi pasti kenikmatan itu menggumpal, apalagi ayunan teratur pendek-pendek pajang itu membuatnya kehausan menanti tusukan panjang kontol Ino datang lagi.

”ouhhh,,,akhsss…hfssss….” Ivo tergial, kala kontol itu menembus pajang hingga ke pangkal bijinya. Dan lagi ia harus menunggu tusukan pendek 9 kali sebelum tusukan panjang ya ia tunggu-tunggu menikam habis lubang memeknya. Memek itu berkedut.

”Ayohhhhh…No…ehmmmmsss…” Ivo kembali meleguh.
”emhsnnn, auch…akh..” Ivo mulai meracau, tubuhnya seakan mengiggil menerima hentakan kontol berayun lembut itu. Dalam kondisi normal mungkin hentakan itu mungkin biasa saja, tapi memeknya sudah lama tak dilintasi kontol, sehingga sedikit saja gesekan membuat Ivo meregang. Memek semakin basah.

”Sabar, manis….” ujar Ino yang memanggil Ivo dengan sebutan Manis.

Ivo tersenyum disela-sela helaahan nafasnya yang tertahan. Sudah lebih dari 10 kali pola 9 pendek satu pajang itu dimainkan Ino. Ivo sepertinya sudah tak tahan lagi. Gelombang kenikmatan menembus batas kenikmatan yang mampu ia tahan. Ia memekik kecang, tubuhnya mengejang, nafasnya tertahan. Ivo orgasme vaginal yang pertama. Tadi ia sudah mengalami orgasme klitoral yang dahsyat, kala Ivo memainkan lidahnya di memeknya dan mejilati, mengulum dan menghisap klitorisnya. Ino membiarkan jiwa dan raga rekan kerjanya itu menikmati pelepasan dahaga nafsu seksualnya itu. Memek Ivo berkedut-kedut, sehingga terasa menggigit kontol Ino. Perempuan itu sudah bersimbah keringat, membuat tubuhnya mengkilat indah. Matanya semakin sayu. Ia terlihat lelah. Nafsunya yang membucah tadi telah pecah berkeping-keping, kepuasan klitoral dan vaginal tadi membuatnya benar-benar lelah. Penantian panjang 11 bulan sejak terakhir kontol suaminya memasukinya, terbayarkan.

”Manis…” desah Ino, diteliga Ivo. Kontol kerasnya masih terdiam di dalam liang surgawi Ivo.
”Ya, gagahku…” Ivo tertawa kecil memanggil Ino gagah. Ino ikut tertawa.
”Kenapa? Suka digagahi ya,” Ino menjerit, karena pinggangnya dicubit Ivo.
”yee…gitu aja geli,”
”Kan udah dibilang…ihhh” Ino tergial-gial karena Ivo terus menggelitik pigangnya, kontolnya nyaris lepas dari lubang memek itu. Ivo kegelian sendiri karena gesekan itu. Memeknya menjadi sangat sensitif.
”Ihhh, udahan dong, geliiii. Gua perkosa juga nih,” ancam Ino.
”terus kita ini lagi ngapain dong….hihihi,,,” Ivo tertawa geli. Mereka berderai. Ino merasakan jepitan memek Ivo menguat saat tertawa.
”lagi ngentot….hahahaha.” mereka berderai lagi.
”udah ah, ketawa terus, masih mau gak neh?” Ino mendengus
”yee…masih lah… enak soalnya…” Ivo malu-malu berujar. Ia memang harus jujur, kontol Ino memang mampu membuatnya tersengal-sengal. Padahal Ino belum mengeluarkan semua kemampuannya. Pantes saja Indri, begitu bahagia pikirnya.

”Ayoh, Gagah, gagahin aku lagi…” Ivo merayu
”Kenapa manis, kontolku enak ya?” jawab Ino

Ivo tak menjawab, sebagai gantinya ia meraih kepala Ino, dan segera melahap bibir Ino, mereka saling hisap dan memilin lidah mereka. Ivo sudah mendapatkan kembali gairahnya. Ia ingin mendapatkan orgasme lagi. Memeknya berusaha memijat kontol keras yang masih nyaman bersemayam tanpa bergerak sedikitpun. Namun klitoris Ivo tergesek pangkal kontol Ino. Membuat ia meliuk keenakan..
”ehmmm…” leguhnya ditengah hisapan bibir Ino. Sementara ia merasakan tangan Ino mengusap-usap dadanya yang sudah mengeras lagi putingnya. Ia memindahkan mulutna mengecup lembut puting itu, sejenak kemudian kecupan itu berubah jilatan dan hisapan, membuat Ivo menggeliat kegelian
”ouchhh, No….” desah Ivo. Tangannya merengkuh pantat Ino, menekan jari-jarinya disana. Ino mengangkat pantatnya, yang otomatis mengeluarkan kontolnya dari lubang memek Ivo.
”ihhh,,,,” Ivo mendesis kegelian di atas ranjang kamar Ivo.

Distibutor Vimax Extender

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*