Distibutor Vimax Extender

Cerita Petualangan Seks Niko: Nikmatnya Mantan Guru SMP

Sebuah cerita seks yang dibumbui dengan kisah petualangan yang seru

Cerita Petualangan Seks Niko
Cerita Petualangan Seks Niko

Satu lagi cerita seks terbaik di blog ini. Langsung saja dibaca cerita petualangan seks Niko dengan mantan guru SMP nya dulu itu berikut ini:

Cerita Petualangan Seks Niko – Nikmatnya Mantan Guru SMP

Sore itu antrian di stasiun Gubeng untuk jurusan Bandung panjang sekali. Untungnya aku berada di antrian ketiga dari depan. Maka aku tak dihinggapi perasaan cemas, karena pasti kebagian tiket.

Udara panas Surabaya terasa menyengat, sehingga aku berkali-kali harus menyeka keringatku dengan tissue yang sengaja kubekal di saku celanaku.

Loket belum dibuka juga. Para pengantri tampak sudah tak sabar. Dan ketika loket baru dibuka, terdengar sapaan seorang wanita di dekatku, “Bisa titip satu Mas?”

Cerita Petualangan Seks | Aku menoleh ke arah suara itu. Dan terkejut ketika melihat wajah wanita itu. Seorang wanita cantik, mengenakan gaun terusan berwarna hitam. Oh…dia Bu Rini, guruku waktu di SMP dahulu ! Iya, tak salah lagi. Tapi tampaknya ia tidak ingat lagi padaku. Maklum, sekarang umurku sudah 21 tahun. Sedangkan waktu diajar olehnya, umurku baru 13 tahunan. Pasti sudah banyak perubahan pada diriku, sementara Bu Rini tetap seperti dahulu. Tetap cantik dan seksi. Malah sekarang ia tampak lebih cantik daripada waktu masih jadi guruku dahulu.

“Tiket ke Bandung?” tanyaku, sengaja tidak memperkenalkan diri dulu. Biar nanti saja setelah mendapatkan tiket aku akan menjelaskan siapa diriku.

“Iya,” wanita itu mengangguk dan tampak bersemangat. Lalu ia membuka tasnya, mengambil uang dari tas itu, “Maaf ngerepotin ya Mas,” katanya waktu menyerahkan uang itu padaku.

Aku cuma menjawabnya dengan senyuman. Dia benar-benar sudah lupa bahwa aku ini bekas muridnya yang dulu paling nakal di kelasku. Biarlah, nanti setelah ada kesempatan aku akan menjelaskan siapa aku ini sebenarnya.

Tak lama kemudian tiket mulai dijual. Tak usah lama aku menunggu, karena aku berada di antrian ketiga dari depan. Lalu kudapatkan tiket dua helai, nomornya 9A dan 9B. Berarti aku akan duduk berdampingan dengan Bu Rini.

Pada waktu menerima tiket titipannya itu, Bu Rini mengangguk sopan sambil berkata, “Terima kasih Mas.”

Tak sabar lagi aku menjawabnya dengan, “Sama-sama Bu Rini.”

Wanita itu terkejut, “Kok bisa tau nama…nama saya?! Anda siapa ya?”

Kujulurkan tanganku untuk menjabat tangan wanita itu sambil berkata, “Ibu lupa ya…saya kan murid Ibu. Saya anak yang paling nakal dulu….saya Niko, Bu.”

“Hah?!” Bu Rini terbelalak dan tampak girang, “Ini Niko?! Ya Tuhaaan…kamu kok berubah sekali Nik! Sekarang udah dewasa…udah ganteng gini? Kalau kamu gak bilang duluan, ibu takkan ingat siapa kamu!”

Bu Rini tidak melepaskan tanganku yang sedang menjabat tangannya.

“Tapi Ibu tidak berubah. Tetap cantik seperti dulu, malah lebih cantik sekarang,” kataku setelah ia melepaskan tanganku.

“Mmm…bisa aja. Sekarang ibu sudah tua lah. Dulu waktu kamu jadi murid ibu, umur ibu baru duapuluhempat. Sekarang kan sudah tigapuluhdua. Niko…Niko…kok bisa ketemu di sini ya? Ngobrolnya di peron aja yuk,” kata Bu Rini sambil menjulurkan tangan ke tasnya.

“Biar saya aja yang bawa tas Ibu,” kataku sambil mendahului tangan Bu Rini untuk mengangkat tasnya, “Hanya tas ini bawaannya Bu?”

“Iya,” Bu Rini mengangguk dengan senyum manis. Ah…kenapa batinku tergetar melihat senyum mantan guruku itu?

Lalu aku melangkah di samping mantan guruku yang berperawakan tinggi semampai dan berkulit putih bersih itu.

Rangkaian kereta api yang akan kami tumpangi belum masuk stasiun Gubeng. Maka kami cari tempat duduk yang masih kosong. Dan melanjutkan ngobrol lagi.

“Kamu kuliah di Surabaya, Nik?” tanya Bu Rini setelah sama-sama duduk di bangku peron.

“Nggak… Saya kuliah di Bandung, kayak katak dalam tempurung, ya Bu.”

“Berarti kamu cinta kampung halaman, bukan kayak katak dalam tempurung. Lagian ngapain kuliah jauh-jauh, kan di Bandung juga banyak universitas unggulan,” kata Bu Rini sambil menepuk lututku, “Lantas di Surabaya ada urusan apa?”

“Cuma liburan doang di rumah kakak, Bu.”

“O…kakakmu di Surabaya?”

“Iya Bu.”

Lalu Bu Rini banyak bertanya mengenai pendidikanku, di mana kuliahku, sudah semester berapa dan sebagainya.

Lalu giliranku bertanya, “Ibu masih tinggal di rumah yang dulu?”

“Nggak…itu kan rumah orangtua ibu. Sekarang ibu tinggal di perumahan,” sahutnya, kemudian ia menyebutkan nama perumahan itu.

Tiba-tiba saja aku ingin tahu gambaran pribadi Bu Rini, “Suami ibu dinas dimana?”

Wajah mantan guruku mendadak tampak murung, “Suami ibu sudah meninggal dua tahun yang lalu, Nik.”

“Oh…” aku kaget, tak menyangka pertanyaanku bisa membuat Bu Rini berduka.

Lalu Bu Rini menceritakan bahwa suaminya kerja di sebuah kapal pesiar. Setelah tiga tahun menjadi istri crew kapal pesiar itu, nasib malang menimpa suaminya. Kapal pesiar itu tenggelam di perairan Atlantik. Hanya beberapa orang yang berhasil diselamatkan dalam musibah itu. Dan suami Bu Rini termasuk dalam daftar korban yang tewas.

“Saya prihatin mendengarnya,” kataku setelah Bu Rini selesai menuturkan kisah sedihnya, “Maafkan saya…karena pertanyaan saya tadi memancing kesedihan Ibu.”

“Gak apa-apa…” kata Bu Rini lirih, “Lagian kejadiannya sudah lama berlalu.”

Tak lama kemudian rangkaian kereta api yang akan kutumpangi sudah memasuki stasiun Gubeng. Kami menunggu beberapa saat, sampai terdengar suara di loudspeaker, bahwa para calon penumpang jurusan Bandung dipersilakan naik ke dalam kereta.

Kubawakan lagi tas Bu Rini di tangan kanan, sementara tangan kiriku menjinjing tasku sendiri.

Di dalam gerbong yang tertulis di tiket, kucari nomor 9A dan 9B. Setelah ketemu, kupersilakan Bu Rini memilih mau di pinggir jendela atau di pinggir lorong.

Bu Rini memilih di pinggir lorong. Takut ada yang melempar batu, katanya. Memang benar, di dalam KA Jakarta-Bandung aku sendiri pernah melihat seorang wanita hamil kena lemparan batu dari luar, kena kepalanya dan pingsan. Maka wajar kalau Bu Rini takut duduk di dekat jendela.

Kebetulan aku justru lebih suka duduk di dekat jendela, supaya bisa melihat pemandangan di luar. Tapi mau lihat apa nanti? Bukankah yang kunaiki ini kereta malam? Hmm…biarlah….yang jelas aku merasa beruntung sore ini. Karena tanpa diduga aku bisa bertemu dan bersama mantan guru yang dulu paling kukagumi di sekolahku.

Ketika kereta eksekutif ini mulai bergerak meninggalkan stasiun Gubeng, terdengar suara Bu Rini di sampingku, “Udah gede gini tentu udah punya pacar ya?”

“Be…belum Bu,” sahutku tersipu.

“Bohong ah,” Bu Rini mencubit tanganku, “Masa cowok seganteng gini gak punya pacar?”

“Betul Bu,” sahutku jujur, “Waktu masih di SMA pernah pacaran, tapi putus begitu aja. Setelah jadi mahasiswa, saya malah males pacaran lagi. Mending konsen kuliah aja Bu. Nanti kalau udah punya kerja, baru saya mau mikirin cewek lagi.”

“Bagus juga sih. Kalau udah punya kerja, cewek mah gampang dicari.”

“Iya Bu. Mmm…dulu waktu masih di SMP, saya nakal banget ya Bu.”

“Ah, itu kan masanya aja. Ada waktunya seorang anak itu jadi nakal. Ada waktunya juga jadi anak yang baik. Seperti sekarang…gak nakal lagi kan?”

“Hehehe…gak lah Bu. Kalau udah dewasa malu nakal-nakalan, Bu. Ohya…Ibu masih ngajar di SMP kita Bu?”

“Nggak,” Bu Rini menggeleng, “Sekarang ibu punya bimbel…”

“Bimbingan belajar?”

“Iya,” Bu Rini mengangguk, “Tapi yang aktif kebanyakan para mahasiswa. Ibu hanya memanage aja. Buat sambilan ibu bisnis kecil-kecilan. Masukin pakaian produk Bandung ke Jatim.”

“Oo…jadi Ibu ke Surabaya juga dalam rangka bisnis?”

“Iya Nik. Cuma menganalisa aja perkembangan di kota-kota yang biasa dikirimin barang. Takut ketinggalan mode. Kalau ngirim barang sih pakai ekspedisi aja. Pembayaran juga dilakukan via transfer. “

Tak lama kemudian seorang pramugari menawarkan makanan. Bu Rini menanyakan aku mau makan apa? Kujawab nasi goreng saja. Lalu ia memesan dua nasi goreng dan dua teh manis panas. Setelah pesanan itu datang, Bu Rini membayarnya. Rikuh juga aku dibuatnya, karena ditraktir oleh mantan guruku. Kalau sudah bekerja, mungkin sewajibnya aku yang mentraktirnya.

“Kamu jadi berubah sekali,” kata Bu Rini waktu sama-sama menyantap nasi goreng, “Keliatannya sekarang kamu jadi alim ya?”

“Hehehe…di depan Ibu aja saya jadi begini, Bu,” sahutku.

“Kenapa? Emangnya ibu ini kamu anggap monster yang menakutkan?” Bu Rini mencubit pahaku sambil menatapku dengan sorot yang tidak biasa.

“Mmm…sebaliknya Bu,” sahutku.

“Sebaliknya gimana?” Bu Rini menatapku dengan senyum yang terasa menggoda.

“Mungkin Ibu gak nyadar…waktu masih di SMP, Bu Rini adalah guru yang paling saya kagumi.”

“Karena ibu gak pernah marahin kamu kan?”

“Bukan cuma itu…yang paling saya kagumi adalah…mmm…Ibu itu guru yang tercantik di mata saya.”

Lagi-lagi Bu Rini mencubit pahaku, “Itu kan dulu…waktu ibu masih muda. Sekarang mah sudah tua…”

“Boleh saya menilai Ibu pada saat ini?”

“Boleh…boleh…demokratis aja…hihihi…”

“Bu…menurut pandangan saya…sekarang Ibu malah lebih cantik dan…dan…”

“…dan apa?”

“Dan…seksi…”

Untuk yang kesekian kalinya Bu Rini mencubit pahaku sambil berkata, “Sekarang kamu udah gede…udah pinter gombal ya?”

“Sumpah Bu…dari tadi saya terkagum-kagum…Ibu kok semakin cantik aja….”

“Terus…sekarang kamu seneng ketemu ibu lagi?”

“Seneng banget Bu…”

“Ya udah…nanti setibanya di Bandung, kamu jangan langsung pulang ya. Nginap di rumah ibu aja. Mau berbulan-bulan tinggal di rumah ibu juga boleh. Biar kamu seneng…bisa dekat sama ibu terus.”

“Serius Bu?”

“Serius ! Tapi sekalian bantuin kerjaan ibu nanti ya. Mmm…kalau kamu mau, kamu bisa ikutan ngajar di bimbel punya ibu. Biar ada penghasilan buat jajan.”

“Wah, asyik tuh. Saya mau Bu !”

“Sampai saat ini ibu belum punya tangan kanan. Mudah-mudahan kamu bisa jadi tangan kanan ibu nanti ya.”

“Siap Bu.”

Kereta api eksekutif yang kutumpangi meluncur terus ke arah barat, di tengah kegelapan malam.

“Ibu ngantuk Nik. Boleh kepala ibu direbahkan di sini?” Bu Rini menepuk pahaku.

“Si…silakan aja Bu…”

“Mmm…untung ada kamu…” tiba-tiba Bu Rini mengecup pipiku. Membuatku terkejut bercampur senang.

Tak lama kemudian Bu Rini merebahkan kepalanya di pahaku. Ia tak mau memakai selimut dan bantal yang dibagikan oleh pramugari. “Jijik, bekas orang,” katanya, “Lagian masa selimutnya juga yang salur-salur gini, kayak di rumah sakit kelas jelata aja. Padahal kereta ini kan eksekutif. Pelayanannya makin lama makin payah.”

Aku bakal sulit bergerak, karena pahaku dipakai rebahnya kepala Bu Rini. Tapi gak apa-apa. Aku malah senang mengalami semua hal yang tak terduga ini.

Sambil rebah terlentang dengan kepala di pahaku, Bu Rini memegang kedua tanganku. Lalu menempelkannya di kedua pipinya sambil berkata, “Sering-sering kepit pipi ibu begini ya. Biar gak kedinginan.”

“I..iya Bu,” sahutku. Tentu saja aku mau banget menempelkan kedua telapak tanganku di pipi mantan guruku yang jelita itu.

Lalu…entah dari mana datangnya keberanian ini. Ketika mata Bu Rini mulai terpejam, iseng-iseng kuelus hidung mancung-meruncing itu. Bu Rini membuka matanya lagi, menatapku dengan senyum manis. Lalu terpejam lagi.

Hmmmm…terawanganku jadi melayang ke mana-mana. Dan aku jadi teringat pada jaket tebalku yang sejak tadi tak kupakai. Tanpa disuruh, kuhamparkan jaket itu menutupi bagian dada Bu Rini. Semoga bisa mengurangi dinginnya AC di dalam gerbong ini.

Mata Bu Rini terbuka lagi. Bibir sensualnya tersenyum lagi. “Thanks, Nik. Kamu baik banget.”

Terawanganku jadi melayang-layang lagi. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

Aku bukan orang bodoh. Minimal aku sudah bisa menganalisa semuanya ini. Tapi aku tak mau bertindak ceroboh. Karena Bu Rini kuhormati di samping rasa kagumku. Yang bisa kulakukan hanyalah wait and see.

Esok paginya kereta api yang kutumpangi tiba di stasiun Bandung tepat pada waktunya. Kujinjing tas Bu Rini dan tasku sendiri, keluar dari peron. Bu Rini mengikuti langkah seorang sopir taksi.

Tak lama kemudian aku dan Bu Rini berada di dalam taksi yang meluncur ke arah kompleks perumahan yang sudah disebutkan oleh Bu Rini tadi.

“Semalaman di kereta api, badan ibu jadi pegel-pegel gini,” kata Bu Rini sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku diam saja. Sementara terawanganku menggoda lagi. Tapi aku berusaha menindasnya, karena takut analisaku salah.

Bu Rini menyuruh taksi berhenti di depan sebuah rumah dalam kompleks perumahan yang elite. Tanpa menunggu perintah, sopir taksi itu menurunkan tasku dan tas Bu Rini dari bagasi mobilnya, lalu meletakkannya di teras rumah Bu Rini.

Ketika memasuki rumah itu, aku dibikin kagum lagi. Sungguh rumah yang megah, ditata secara artistik pula. Kalau masih mengajar di sekolahku dahulu, pasti Bu Rini takkan punya rumah semegah ini, dengan perabotan serba mahal pula. Dan aku cepat berprediksi, bahwa mungkin Bu Rini mendapatkan santunan asuransi yang cukup besar, sehingga bisa memiliki rumah semegah ini.

“Rumah sebesar ini hanya dihuni sama Ibu sendirian?” tanyaku setelah dipersilakan duduk di sofa panjang ruang tamu, di samping Bu Rini.

“Iya,” Bu Rini mengangguk, lagi-lagi dengan senyum yang menggoda, membuat batinku tergetar lagi, “Ada sih tukang beres-beres, tapi kalau ibu gak ada dia juga gak masuk. Pada hari-hari tertentu banyak juga yang suka berkumpul di sini. Guru-guru bimbel itu.”

“Suasananya nyaman buat mencari ketenangan,” kataku.

“Buat belajar juga cocok kan?” kata Bu Rini sambil memegang tanganku. Terasa hangat genggamannya itu.

“Iya Bu. Kalau untuk belajar, cocok sekali. Suasananya tenang banget, ” kataku sambil diam-diam membandingkan dengan suasana di rumah orang tuaku yang di dalam gang kecil dan selalu bising dan bau. Maklum rumah orang tuaku dikelilingi pabrik tahu, yang air limbahnya bau menyengat.

“Kalau kamu mau, tinggal di sini aja,” kata Bu Rini, “Sekalian bantuin ibu dalam kegiatan bimbel dan bisnis pakaian itu.”

“Mau Bu.”

“Syukurlah. Ibu juga takkan serakah. Nanti kamu dapat bagian keuntungan tiap bulan. Anggap aja gaji bulanan.”

Aku seperti mendapat kesempatan untuk memancing Bu Rini, supaya perasaannya padaku seperti apa. Lalu kataku, “Gak digaji juga saya mau Bu. Yang penting…saya bisa dekat sama Ibu terus…”

“Yang bener nih,” cetus Bu Rini sambil melingkarkan lengannya di leherku. Dengan bibir ternganga dan mata bergoyang.

Ini benar-benar indikator positif buatku. Kenapa aku masih terus berbasa-basi? Bukankah tadi di sepanjang perjalanan aku memimpikan terus kesempatan seperti ini?

Lalu seperti mendengar teriakan di dalam batinku sendiri: Terkam dia ! Tunjukkan bahwa kamu laki-laki ! Bukankah dia sudah menantang kejantananmu?

Tanpa banyak basa basi lagi, kupagut bibir Bu Rini yang tampak menantang itu. Berikutnya justru Bu Rini yang melumat bibirku. O, serasa melayang batinku dibuatnya.

Tapi hanya beberapa menit aku bisa menikmati semuanya ini, karena lalu kudengar bisikan Bu Rini, “Supaya segar, mendingan kita mandi dulu yok.”

Seperti robot yang sudah dikendalikan, aku mengikuti langkah Bu Rini ke dalam kamarnya. Di situ ada pintu kamar mandi. Ia membuka pintu itu, lalu menoleh padaku, “Kalau mau ganti pakaian, ambil dulu pakaianmu gih.”

Sebagai jawaban, kupeluk pinggang Bu Rini dengan sepenuh gairah mudaku. “Ganti baju mah gampang Bu…mending mandi aja dulu….”

“Udah gak sabar pengen mandi sama ibu ya?” Bu Rini mengerling dengan senyum yang sangat mengundang.

“Iya Bu.”

“Ohya…nanti kalau ada yang nanya, bilang aja kamu itu adik sepupu ibu ya.”

“Iya, iya…”

Kuperhatikan keadaan kamar mandi yang bersatu dengan kamar tidur Bu Rini ini…besar dan lengkap. Bukan cuma ada bathtube yang ditutup oleh kaca buram, tapi ada lemari handuk dan pakaian segala.

“Mandi berdua di situ mau?” tanya Bu rini sambil menunjuk ke bathtube.

“Serius Bu?” tanyaku sangsi, sambil melingkarkan lenganku di pinggangnya.

“Kamu pikir ibu main-main? Masa sih ibu biarkan kamu mencium bibir ibu kalau gak ada apa-apanya.”

“Saya merasa seperti bermimpi dengan semuanya ini Bu. Sungguh gak nyangka hari ini saya akan mengalami kejadian indah ini,” kataku ketika kulihat Bu Rini mulai menanggalkan gaun yang dipakainya dari Surabaya sejak kemarin.

“Masa sih? Cubit tanganmu sendiri, biar yakin bahwa sekarang kamu bukan sedang bermimpi,” Bu rini menggantungkan gaun hitamnya di kapstok. Sementara aku dibuat bengong setelah menyaksikan indahnya tubuh wanita itu, yang cuma tinggal mengenakan beha dan celana dalam saja.

GIlanya, tanganku ditariknya. Diselusupkan ke balik behanya, sehingga aku menyentuh payudara yang montok dan terasa masih kencang. “Di kereta api ibu tunggu kamu memegang ini. Tapi kamu hanya berani memegang leher dan pipi doang ya?”

Aku jadi degdegan. Suaraku juga jadi terengah-engah, “Sa…saya gak berani dong Bu.”

“Sekarang sudah berani kan? Bukain dong kancingnya, kan mau mandi,” kata Bu Rini sambil menunjuk ke arah punggungnya. Ke arah kancing kait behanya.

Dengan bersemangat kulepaskan kancing kait itu. Lalu kuberanikan diri melepaskan beha itu, “Gantungin di sini juga Bu?” tanyaku sambil membawa beha itu ke kapstok, di mana gaun hitam Bu Rini sudah tergantung.

“Iya,” sahut Bu Rini yang sudah melangkah ke arah bathtube tanpa melepaskan celana dalamnya. Lalu kulihat ia membuka kran air panas dan air dingin.

Besar sekali bathtube di kamar mandi ini. Aku lalu teringat bahwa almarhum suaminya dulu bekerja di kapal pesiar dan sering berada di luar negri, sehingga almarhum punya selera internasional. Dan itu bisa dibuktikan dengan bentuk penataan di dalam rumah ini, termasuk penataan kamar mandi ini yang tidak asal-asalan.

“Kalau mau mandi buka dong bajumu,” kata Bu Rini yang sudah menelentang di dasar bathtube sambil menutupi sepasang payudara montoknya.

“Di situ Bu?” tanyaku canggung sambil menunjuk ke arah bathtube.

“Iya,” sahut Bu Rini, “bathtubenya besar Nik. Dipakai tiga orang juga muat.”

Tak buang-buang waktu lagi, kulepaskan baju dan celana jeansku. Tapi aku tak berani melepaskan celana dalamku. Lalu aku memasukkan kaki ke bathtube dalam keadaan tinggal bercelana dalam.

“Kok celana dalamnya gak dibuka?” tegur Bu Rini dengan sikap menggoda.

“Ibu juga kan pakai celana dalam,” sahutku berusaha mengimbangi.

“Nanti kamu aja yang lepasin celana dalam ibu,” kata Bu Rini sambil menarik lenganku yang belum terendam air. Gila ! Ucapan Bu Rini itu menimbulkan khayalan yang bukan-bukan.

Terlebih lagi setelah aku sama-sama berendam dalam air hangat di samping Bu RIni. Rasanya aku mulai sulit mengatur nafasku, karena dengan tatapan dan senyum menggoda Bu Rini mengangsurkan sepasang payudara montoknya ke dekat wajahku sambil berdesis, “Mau netek nak?”

Dengan sigap aku menjawabnya secara bercanda juga, “Mau mamah….”

Bu Rini ketawa cekikikan. Lalu mulutku benar-benar mencelucupi pentil payudara kirinya, sementara Bu Rini memeluk leherku dengan cara yang membuat aku lupa daratan.

Namun kebinalan Bu Rini tak cuma itu saja. Tanganku pun diraih sampai menempel di perutnya, lalu diselinapkan ke dalam lingkaran karet celana dalamnya. Ini adalah puncak gejolak dalam batinku, karena tanganku mulai menyentuh jembut Bu Rini yang terasa lebat, sementara Bu Rini bahkan memagut bibirku…lalu mengemut lidahku yang ditarik ke luar.

Oh, aku jadi edan eling dibuatnya. Terlebih ketika jemariku mulai menemukan celah kemaluan Bu Rini…sehingga dengan leluasa aku mulai menjelajahi daerah yang paling sensitif di tubuh mantan guruku itu.

Aku lalu teringat kata-kata Bu Rini tadi, “Nanti kamu aja yang lepasin celana dalam ibu.” Kini aku mengerti bahwa ia akan membiarkanku melepaskan celana dalamnya. Dan aku melakukannya tanpa keraguan lagi, melepaskan satu-satunya benda yang masih melekat di tubuh mantan guruku.

Setelah kubikin telanjang bulat, Bu Rini berkata sambil memeluk leherku lagi, “Mulai saat ini ibu jadi milikmu….boleh kamu lakukan apa pun yang kamu mau….”

Sebagai mahasiswa yang sudah berumur 21 tahun, tentu aku memahami arti kata-kata mantan guruku itu. Maka akupun menjawabnya dengan tegas, “Mulai saat ini saya juga menjadi milik Bu Rini…dan Ibu boleh lakukan apa pun yang Ibu mau…”

“Sttt….” Bu Rini menempelkan telunjuknya di bibirnya, “Mulai saat ini jangan panggil ibu-ibuan lagi….nanti orang-orang heran, masa manggil Bu Rini pada kakak sepupu?”

“Kalau gitu, mau manggil Mbak aja ya…” usulku.

“Iya,” Bu Rini mengangguk, “Di depan orang lain kamu harus manggil Mbak…tapi kalau gak ada orang lain, kamu boleh manggil apa saja. Nyebut namaku langsung juga boleh.”

Ucapan itu dilanjutkan dengan aksi tangan Bu Rini, merayapi dada dan perutku, lalu menyelinap ke balik celana dalamku, sehingga ia sadar bahwa penisku sudah tegang sekali. Karena memang sejak masuk ke dalam kamar mandi ini pun penisku sudah tegang.

“Wow, udah tegang banget,” kata Bu Rini sambil memegang batang kemaluanku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memelorotkan celana dalamku, “Gila ! Kamu apain penismu ini Nik? Kok bisa panjang gede gini?”

“Gak diapa-apain,” sahutku, “kebetulan aja saya dianugrahi penis yang international size…hehehe…”

“Ah…ibu jadi horny, Nik…tapi jangan di sini…di tempat tidur aja yuk, biar empuk dasarnya…” Bu Rini bangkit dan keluar dari bathtube, lalu mengambil salah satu handuk yang tergantung di kapstok. Setelah mengeringkan tubuhnya, handuk itu dibelitkan ke badannya sambil berkata, “Pakai aja handuk itu. Semuanya bersih Nik.”

“Iya,” sahutku sambil melangkah ke kapstok, lalu mengambil handuk berwarna krem dan kupakai untuk mengeringkan tubuhku. Lalu kubelitkan handuk itu dan mengikuti langkah Bu Rini keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur luas yang masih diterangi beberapa lampu.

Bu Rini mematikan lampu-lampu, sehingga tinggal lampu dinding dekat tempat tidur yang masih menyala redup. Lalu ia naik ke atas tempat tidur, melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya, lalu menelentang dalam keadaan telanjang bulat. Dan tersenyum padaku dengan kedua tangan direntangkan, seolah menantangku, “Terkamlah aku Niko…”

Dengan jantung berdegup-degup kulepaskan pula handuk yang melilit di tubuhku, lalu naik ke atas tempat tidur…dan benar-benar menerkamnya dengan gejolak nafsu yang semakin tak terkendalikan.

Bu Rini menyambut terkamanku dengan pelukan hangat. Dengan bisikan menghiba, “Milikilah ibu sepuasmu, sayang.”

Itu pertama kalinya kudengar kata “sayang” dari mulut Bu Rini. Maka sambil memeluk leher mantan guruku itu, aku pun berbisik, “Semua ini benar-benar seperti dalam mimpi, Rini sayang….”

Itu pula pertama kalinya aku berani menyebut namanya langsung, tanpa embel-embel Bu lagi.

Dan kami lalu bergumul mesra, dalam kehangatan birahi yang makin bergolak. Meski bukan cowok yang banyak pengalaman, aku sudah sering nonton film-film bokep. Sehingga aku tahu benar bagaimana caranya menciumi bibir Bu Rini, bagaimana pula cara menjilati lehernya yang harum, mencelucupi pentil payudaranya dan bahkan menjilati pusar perutnya….lalu menurun ke bagian yang tertutup jembut lebat hitam itu.

Tanpa keraguan lagi kungangakan bibir kemaluan Bu Rini, kemudian kuserudukkan mulutku ke belahan yang merah itu, lalu naik ke atas…ke arah kelentitnya yang nyempil kecil…lalu menjilatinya dengan rakus. Aku senang sekali melakukannya, karena kemaluan Bu Rini tidak berbau sedikit pun, membuatku bersemangat menjilatinya.

“Niko….oooh…Nikoooo….oooh….ini enak sekali, sayaaaang….ooooh……Niko… …ternyata kamu sudah pandai ya….oooh….” rintih Bu Rini sambil mengelus-elus rambutku yang berada di bawah perutnya.

“Saya sering nonton filmnya, tapi baru sekarang saya praktekkan,” kataku di sela-sela permainan oralku.

“Iya…itu betul…nah itunya yang harus digasak, sayang,” desis Bu rini pada waktu ujung lidahku sedang menjilati clitorisnya.

Maka aku pun menjilati clitoris Bu Rini dengan ganasnya, sementara jemariku mulai kumasukkan ke dalam liang kemaluannya…kugerak-gerakkan di liang yang sudah mulai basah dan hangat itu. Terasa sepasang kaki Bu Rini mengejang-ngejang, mungkin sedang merasakan nikmatnya jilatanku.

Tapi tak lama kemudian Bu Rini menarik kepalaku agar naik ke atas dadanya, “Masukin aja penismu, sayang. Nanti ibu keburu ambrol…”

Setelah aku berada di atas tubuhnya, Bu Rini membantuku memegang batang kemaluanku yang sudah sangat tegang ini, menempelkan ujung tombakku persis di depan mulut vaginanya. Sementara itu ia pun merentangkan kedua pahanya lebar-lebar, mungkin untuk mempermudah penetrasi penisku ke liang vaginanya.

Tak lama kemudian kudengar perintahnya, “Ya…doronglah…”

Kuikuti perintah itu. Kudesakkan batang kemaluanku dan…blessss….masuk sedikit…kudesakkan lagi….blessssss….makin masuk ke dalam liang vagina Bu Rini.

“Oooh…sudah masuk, sayang…” Bu Rini memeluk leherku, sehingga wajahku berada di samping pipi kanannya.

Meski belum masuk semuanya, aku mulai menggerak-gerakkan penisku, tarik, dorong, tarik, dorong….sehingga penisku mulai seperti sedang memompa liang vagina Bu Rini.

Oooh, ini nikmat sekali, sehingga aku terpejam-pejam dibuatnya.

Bu Rini pun mulai merintih-rintih tak terkendali, “Oooh…Niko…sayaaang…sayang…Niko…sayang…sayang…oooo h….enak banget, sayang…..ooooh…punyamu gede banget sih…..oooh….genjot terus sayang….jangan berhenti-berhenti…naaaah gitu…oooh….luar biasa enaknya nih…ibu sudah lama sekali tidak merasakan diginiin….oooh….”

Kuhentikan dulu gerakan penisku, lalu kutatap wajah cantik Bu Rini (yang mirip Nourma Yunita di masa mudanya itu). Tanyaku nakal, “Kita ini lagi ngapain ya?”

Bu Rini mencubit pipiku, “Iiih…nakal ! Kita kan sedang bersetubuh, sayang. Sekarang ini ibu sudah menjadi milikmu sepenuhnya…..”

“Saya bahagia sekali diberi kesempatan memiliki Ibu, eh Mbak Rini yang sejak di SMP jadi guru yang paling saya kagumi…” kataku sambil menciumi lehernya.

Lalu kulanjutkan lagi gerakan batang kemaluanku, maju mundur di dalam jepitan liang vagina yang luar biasa enaknya ini.

Tampaknya Bu Rini sangat menikmati gesekan-gesekan batang kemaluanku di liang vaginanya. Terkadang matanya terpejam, lalu terbeliak, terpejam lagi dan seterusnya. Kedua tangannya pun tiada hentinya menjelajahi kepala dan tubuhku yang bisa dicapainya. Terkadang ia meremas-remas bahuku, lalu mengelus rambutku, lalu meremas-remas pantatku. Di saat lain lengannya mendekap pinggangku erat-erat, seolah tak mau berpisah dariku sedikit pun.

Aku pun semakin ganas mengayun batang kemaluanku. Pada waktu penisku sedang dibenamkan, kudesakkan sekuat mungkin, sehingga terasa benar moncong penisku menyundul ujung liang vagina mantan guruku. Pada detik-detik seperti itu, Bu Rini tampak sangat menikmatinya. Ia menatapku dengan mulut ternganga, dengan kedua telapak kaki dipertemukan di atas pinggangku.

Dan dalam detik-detik seperti itu aku pun tak dapat menahan celoteh nikmatku, “Oooh….sayaaaaang….ini enak sekali…..oooh…..oooh….enak sayang….”

Yang lalu dijawab dengan remasan di bahuku, dengan gigitan lembut di bibirku. Terkadang sekujur tubuh mantan guruku itu terasa bergetar-getar…di saat lain ia mengejang, menggeliat dan mengelojot sambil mendesah-desah seperti kepedasan.

Tapi tak lama kemudian ia menahan-nahan napasnya, lalu berkata terengah-engah, “Sayang….ibu udah mau keluar nih….barengin aja yok…biar enak…”

Meski tak mau mengakui bahwa aku punya pengalaman juga, aku bersikap seperti cowok hijau. Kataku, “I…iya…gimana caranya?”

“Percepat aja gerakannya….iyaaaa….iyaaaa….enjot terus secepatnya, biar kamu cepat keluar….” desah mantan guruku sambil menggoyang-goyangkan pantatnya dengan gerakan yang aduhai.

Maka ketika aku sudah mempercepat enjotan penisku, liang kemaluan Bu Rini terasa seperti memilin-milin penisku karena gerakan pantatnya yang gila-gilaan. Oooh…ini enak sekali !

Akhirnya kami mengalami puncak yang sama. Puncak kenikmatan yang luar biasa ganasnya. Bahwa mantan guruku seperti mau menghancurkan bahuku, mencengkramnya dengan kuat sekali….sementara aku pun melakukan hal yang sama…kudesakkan batang kemaluanku sekuat mungkin, sambil meremas payudara wanita itu dengan remasan yang cukup kuat. Lalu kami sama-sama menahan napas, diikuti dengan desahan nikmat yang sangat indah.

Ooooooohhhhhhh……

Aaaaaahhhhhhhh……

Batang kemaluanku mengejut-ngejut sambil menyemprot-nyemprotkan air maniku. Sementara kemaluan mantan guruku juga terasa mengejut-ngejut kecil, lalu terasa jadi banjir. Banjir oleh lendir kenikmatan kami. Bahkan terasa meleleh ke luar dari vagina wanita cantik itu.

Kami sama-sama terkapar lunglai sambil berpelukan. Lalu aku berguling ke samping, sehingga batang kemaluanku terlepas dari liang vagina Bu Rini.

Mantan guruku bangkit dan meraih handuknya, “Air manimu banyak sekali, Nik. Sampai meluap gini,” katanya sambil mengelap kemaluannya dengan handuk.

Aku cuma tersenyum sambil mengelus lutut dan betis mantan guruku.

Setelah mengeringkan kemaluannya, wanita cantik itu merebahkan diri lagi di sisiku.

“Ini pengalaman yang paling dahsyat dalam hidup saya, Bu…eh Mbak…” kataku.

“Kalau gak ada orang lain, kamu boleh nyebut namaku langsung, sayang,” kata mantan guruku sambil meremas tanganku, “Kamu telah membuat hidupku jadi berwarna lagi…”

Lalu kami berpelukan dengan posisi miring berhadapan. Dan akhirnya tertidur pulas, tanpa mempedulikan tubuh kami yang masih telanjang.

Hari sudah sore saat aku terbangun. Kulihat mantan guruku tak ada di sampingku lagi. Maka bergegas aku turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, di mana pakaianku masih tergantung di kapstok. Tapi aku mandi dulu di bawah semburan shower air hangat. Dan membersihkan tubuhku sebersih mungkin.

Setelah mandi barulah kukenakan kembali pakaianku. Lalu melangkah ke luar kamar untuk mencari Bu Rini.

Ternyata ia sedang berada di dapur, dalam kimono putih bersih.

“Nyenyak banget tidurmu ya?” kata Bu Rini sambil menoleh padaku dengan senyum manisnya.

“Iya sayang,” sahutku sambil memeluknya dari belakang, “Saya kan gak tidur di kereta api. Karena menjaga mantan guru tercinta, takut digigit nyamuk…”

“Mmm….perjalanan dari Surabaya ke Bandung itu bisa jadi kenangan manis kita ya?” cetus Bu Rini sambil mengecilkan api kompornya.

“Iya…kenangan yang sangat indah…karena dipertemukan dengan mantan guruku yang dulu paling kukagumi. Tapi apa dasarnya Ibu eh Mbak Rini memberikan semuanya itu padaku?”

“Apa ya? Yang jelas ibu, eh aku senang mendengar bahwa kamu sangat mengagumiku sejak di SMP dahulu. Lalu aku menyaksikan sesuatu yang istimewa pada dirimu…bahwa kamu sudah menjadi cowok yang ganteng ! Tapi yang kusukai pada dirimu sekarang, adalah sikapmu itu…jauh berbeda dengan waktu masih jadi muridku dulu…sekarang kamu sudah menjadi cowok yang mantap dan berwibawa…”

Aku termangu mendengar ucapan mantan guruku itu. Lalu duduk di depan meja makan yang ada di dapur luas itu (jauh berbeda dengan dapur di rumah orang tuaku yang cuma ada kompor dan kulkas, serba sempit pula).

“Mau minum kopi?” tanya Bu Rini (aku akan membiasakan untuk tetap memanggil Mbak, supaya orang-orang percaya bahwa aku ini adik sepupunya).

“Boleh, tapi jangan kemanisan ya.”

“Kamu suka merokok kan?”

“Iya Mbak. Gakpapa kan?”

“Gakpapa. Kadang-kadang cowok itu suka tampak lebih macho kalau sedang merokok. Asal jangan lebih dari sebungkus sehari.”

“Wah, aku malah cuma setengah bungkus sehari. Di kereta api semalam suntuk gak bisa merokok. Makanya masih utuh nih rokoknya,” kataku sambil mengeluarkan bungkus rokok kretek filterku yang masih utuh. Dan menyalakannya sebatang.

Tak lama kemudian Mbak Rini meletakkan cangkir kopi di meja depanku, “Silakan diminum kopinya, Mas Ganteng,” godanya sambil tersenyum.

“Terimakasih, Mbak Cantik,” sahutku sambil tersenyum juga.

“Sebentar lagi kita makan ya,” kata Mbak Rini sambil menarik sebuah kursi ke samping kursiku.

“Mmm…Ibu, eh Mbak belum punya anak ?” tanyaku setelah Mbak Rini duduk di sampingku.

“Sudah, baru seorang,” sahutnya, “Anak laki-laki. Sekarang umurnya tiga tahunan.”

“Di mana dia sekarang?”

“Diminta sama mantan mertuaku. Sebagai pengganti almarhum, katanya.”

Aku tidak berani menanggapi, karena takut salah ngomong.

“Aku pengen punya anak dari kamu,” kata wanita itu, membuatku agak terkejut, “Biar anaknya ganteng kayak kamu.”

“Mmm….bagusnya nanti setelah aku sarjana dan punya pekerjaan tetap.”

“Ngapain nunggu jadi sarjana? Kamu kan sudah punya job tetap di sini. Penghasilanmu di sini akan lebih besar daripada kerja kantoran biasa. Penghasilan itu untuk pribadimu saja. Aku kan sudah punya penghasilan sendiri.”

“Oke,” aku mengangguk sambil mencium pipi Mbak Rini, “Silakan atur-atur aja lah. Aku ikut keinginan Mbak aja.”

Mbak Rini tersenyum dan berkata, “Becanda, sayang. Setelah melahirkan, aku kan ikut keluarga berencana. Sampai sekarang belum dicabut lagi alatnya. Jadi…meski kita ML sepuluh kali sehari, aku takkan hamil.”

“Tapi aku serius Mbak. Kawin dengan Mbak pun aku mau.”

“Kawin apa nikah? Tadi kan kita udah kawin…hihihi…”

“Menikah…iya…aku siap menjadi suami Mbak.”

“Serius?”

“Serius, Mbak sayang…”

“Emang gak malu nikah sama wanita yang lebih tua?”

“Hari gini masih bahas masalah usia? Artis juga banyak yang menikah dengan wanita berusia jauh lebih tua. Aku malah bangga memiliki Mbak Rini yang begini cantiknya…”

“Mmmm….” Mbak Rini tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. Spontan saja kupagut bibir sensual itu. Lalu kudengar suaranya, “Tak kusangka kamu bisa membahagiakan hatiku yang selama ini terasa gersang.”

Lalu ia menghampiri kompor yang berbentuk seperti mesin cuci itu. Mematikan kompor itu sambil berkata, “Sudah masak sup ayamnya. Kita makan dulu ya. Hari ini perut kita belum diisi apa-apa.”

“Iya,” sahutku, “Terakhir kita makan nasi goreng di kereta api, lalu terlupakan…karena sesuatu itu….”

“Sesuatu apa?” ia menoleh sambil meletakkan mangkuk besar di atas meja, kemudian menuangkan sop ayam dari panci bertangkai panjang.

“Sesuatu yang sangat indah….yang pasti akan membuatku ketagihan,” sahutku.

“Emang yang tadi itu enak?”

“Enak banget !”

“Oke deh, kita makan dulu yuk. Mau pake nasi apa kentang goreng?”

“Nasi aja. Orang Indonesia kalau belum makan nasi kan seperti belum makan.”

Mbak Rini tersenyum, lalu menuangkan nasi ke piring dan meletakkannya di depanku. Kemudian ia duduk di sampingku sambil bertanya, “Mau disuapin?”

“Aku aja yang nyuapin Mbak,” sahutku, “Mau?”

“Mau,” sahut mantan guruku dengan sikap manja, “Nanti setelah suapin mulut atas, suapin juga mulut bawah yaaa….”

“Heheheee…iya, iya…! “

“Udah pengen lagi kan?” godanya sambil memegang celanaku pas di bagian penisku yang sudah bangun lagi.

“Heheheheee…bikin malu aja ih.”

Ia cuma tersenyum-senyum sambil makan. Selesai makan ia menatapku, “Malam ini kuat berapa kali lagi?”

“Gak tau…belum pengalaman sih…” kataku dengan perasaan bersalah, karena sebenarnya aku membohonginya. Ada sosok lain yang pernah singgah dalam hidupku, tapi akan tetap kurahasiakan.

“Selama ini kalau nafsu, disalurin ke mana?” tanyanya setelah selesai makan.

Kujawab dengan bisikan, “Dikocok aja pake cream.”

“Sama cewek belum pernah?” tanyanya lagi sambil menarik ritsleting celanaku, lalu menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku.

“Belum. Paling juga nonton bokep sambil ngocok.”

“Kasian amat,” desisnya sambil menggenggam penisku yang sudah mulai bangun, “Kalau ngocok bisa berapa kali semalam?”

“Pernah sampai tujuh kali,” sahutku, “Soalnya setelah ngecrot, hidup lagi, ngecrot lagi, hidup lagi….sampai subuh….”

“Mmmm…hebat !” katanya sambil membereskan meja makan, sehingga tak ada apa-apa lagi di atas meja itu.

Di luar dugaanku, ia duduk di pinggiran meja makan itu sambil melepaskan ikatan tali kimono yang melingkari pinggangnya. Lalu merentangkan kedua sisi kimono itu. Membuatku sadar bahwa ia tak mengenakan apa-apa lagi di balik kimono sutra putih itu.

“Cobain di sini yok…” ajaknya sambil menepuk-nepuk kemaluannya yang berjembut tebal sekali itu.

Aku mengangguk sambil menggeser kursiku ke depan wanita cantik itu. Ternyata pas banget…aku bisa meniru posisi seperti di video-video triple X. Bahwa aku bisa duduk di kursi sambil mendekatkan wajahku ke kemaluan Ibu RIni yang sekarang sudah menjadi milikku dan mulai kubiasakan menyebut Mbak padanya.

Mbak Rini tampak mengerti apa yang akan kulakukan. Ia merentangkan pahanya, dengan lutut berada di pinggiran meja dan kaki terjuntai ke bawah. Ia pun merebahkan badannya, jadi menelentang di atas meja makan itu.

Aku pun mulai menyibakkan rambut vaginanya, sehingga belahan kemaluannya mulai tampak kemerahan. Dan tanpa basa basi lagi, kuserudukkan mulutku ke memek yang tampak menantang itu. Kugerak-gerakkan lidahku, menyapu-nyapu kemaluan Mbak Rini, sehingga terasa kakinya mulai mengejang-ngejang. Terlebih setelah lidahku mulai menggasak clitorisnya, erangan-erangan histeris pun mulai berkumandang di dapur yang ditata secara modern ini. Sementara kedua tanganku menjulur ke arah sepasang payudara yang montok dan terawat itu. Dan mulai meremasnya dengan lembut, meski terkadang aku meremasnya dengan agak keras. Sesekali kumainkan pentil payudara itu, sementara lidahku tetap asyik menjilati vaginanya yang makin lama makin basah.

Dan aku ingin meniru adegan film bokep yang pernah kutonton. Pada satu saat aku berdiri sambil memegang batang kemaluanku yang sudah tegang ini, kemudian kutempelkan puncak penisku di mulut vagina Mbak Rini yang sudah basah itu. Lalu kudesakkan dengan sekuatnya…blessss…berhasil membenam dengan mudah, karena liang kemaluan Mbak RIni sudah basah sekali.

Meski sambil berdiri di lantai, aku bisa mengayun penisku, dengan kedua tangan memegang sepasang paha mulus Mbak Rini yang terbuka lebar. Sementara Mbak Rini mulai berdesah-desah lagi seperti orang kepedasan.

Tapi tak terlalu lama aku melakukan senggama dengan posisi seperti itu. Beberapa menit kemudian kuangkat punggung Mbak Rini tanpa mencabut penisku dari dalam vaginanya, sehingga ia jadi berada dalam pelukanku. Lalu aku melangkah ke ruangan lain, ke ruangan keluarga yang lantainya berkarpet tebal. Itu semua kulakukan sambil memangku Mbak Rini yang vaginanya tetap menjepit penisku.

Lalu dengan hati-hati kurebahkan Mbak Rini di karpet, tanpa melepaskan penisku dari dalam vaginanya.

Lalu kupeluk lehernya erat-erat sambil berbisik, “Kalau posisi begini enaknya bisa sambil melukin Mbak….rasanya kita benar-benar menyatu.”

“Iya sayang,” sahut Mbak Rini, “Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan sesukamu. Aku kan sudah menjadi milikmu sekarang.”

“Iiiih…kata-kata Mbak membuat dadaku berdenyut ….” kataku sambil mulai mengayun lagi penisku, maju-mundur dalam liang kemaluan Mbak Rini yang enak banget rasanya.

Ternyata Mbak Rini pun merasakan hal yang sama. Pada saat aku lagi gencar-gencarnya mengenjot liang kemaluannya, ia berkata terengah-engah, “Niko….ohh…Niko….ini hubungan seks yang paling enak dalam hidupku. Punyamu gede banget sih….oooh…Niko….enak banget sayang….Niko….”

Sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama. Bahwa persetubuhan demi persetubuhan dengan mantan guruku ini adalah yang paling berkesan dalam hidupku. Namun aku tak mengutarakan semua yang kurasakan ini. Aku menjawabnya dengan tindakan. Dengan mengenjotnya sepenuh gairahku, sambil menjilati lehernya yang mulai keringatan. Tapi ketika aku bermaksud mencupang lehernya, ia mendorong kepalaku sambil berkata, “Kalau mau nyupang di tetek aja…jangan di leher, sayang. Takut kelihatan sama orang-orang….”

Kulakukan apa yang dipinta itu. Kucupang di payudara kanannya, lalu di payudara kirinya, sehingga meninggalkan bekas merah di sepasang bukit kenyal yang indah itu.

O, Ibu Rini mantan guruku yang jelita….sekarang ia menjadi kekasihku….

Cerita Petualangan Seks – Bagian II

Mbak MITA – Kepala Administrasi BimBel Milik Mbak Rini

Mbak Mita pagi itu tampak asyik bekerja di ruang administrasi. Tapi setelah menyadari kedatanganku, ia tampak tersenyum sinis. Aku heran dibuatnya. Tak seperti biasanya ia bersikap seperti itu. Aku, cowok yang sensi ini tak bisa menerima sikap seperti itu. Maka kuambil kursi dan kusimpan di depan meja Mbak Mita. Lalu duduk di situ.

“Ada apa Mbak?” tanyaku perlahan supaya tidak menarik perhatian pegawai lain.

“Gak ada apa-apa,” sahutnya.

“Kirain pengen diajak makan di sebrang itu.”

“Emang mau nraktir?” sorot mukanya sedikit berubah.

“Ayo. Tapi jangan ajak yang lain.”

Sikapnya jadi agak cair. Lalu kami menyebrangi jalan dan masuk ke rumah makan langganan kami.

“Tadi seperti ada sesuatu, tapi Mbak gak mau ngaku, ya udah. Tadinya kupikir barangkali ada yang bisa kubantu, tentu akan kubantu sebisanya.”

Mbak Mita menatapku. Lalu memandang ke jalan. Seperti ada yang mau disampaikan, tapi berat mengucapkannya.

“Ayolah, ngomong aja Mbak. Meski usiaku di bawah Mbak, aku punya instink yang lumayan tajam. Ada yang ingin Mbak sampaikan kan?” tanyaku sambil mengusap-usap tangan Mbak Mita yang terletak di atas meja makan.

“Dik Niko beneran adik Bu Rini?” tiba-tiba saja ia menanyakan sesuatu yang selama ini belum pernah kami bahas.

“Iya, aku adik sepupunya. Emang ada apa?”

“Hhh…” Mbak Mita mendengus di hidung, “Masa saudara sepupu sampai ngos-ngosan bergumul tadi pagi. Apalagi kalau malam kale….pasti lebih ngos-ngosan lagi.”

Aku tersentak. Kaget sekali. Tadi pagi aku memang bergumul dengan Mbak Rini, dalam amukan birahi yang membuatku lupa daratan. Lalu kenapa Mbak Mita tau? Apakah dia ngintip tadi?

“Kata siapa Mbak?” tanyaku sambil menggenggam tangan wanita berusia 30 tahunan itu.

“Aku lihat dengan mata kepala sendiri. Tadinya aku mau ada perlu sama Bu Rini. Eeee…rupanya beliau sedang asyik-asyikan dengan adiknya…”

Wah, ini gawat. Rahasiaku dengan Mbak Rini gak boleh sampai tersiar ke mana-mana. AKu harus mencegahnya. Mencegah dengan caraku sendiri. Maka kataku, “Mbak…sejak aku kenal sama Mbak, sebenarnya aku punya perhatian khusus sama Mbak. Aku sangat tergoda sama Mbak. Tapi setelah tau Mbak sudah bersuami, terpaksa aku alihkan dengan cara yang tidak merugikan orang lain.”

“Ah, masa bisa tergoda sama aku. Kan sudah punya Bu Rini.”

“Harus gimana ya menjelaskannya? Tapi kalau gak percaya, ya sudah.”

“Kalau Dik Niko bicara secara terbuka, pasti aku tanggapi. Tapi selama ini Dik Niko kan gak pernah ngomong apa-apa sama aku, kecuali masalah kerjaan doang.”

“Di kantor kan banyak orang mulu, Mbak.”

“Kan bisa ngajak ngomong di sini berduaan aja.”

“Ya sekarang aku ngomong. Bisa Mbak tanggapi?”

“Takut cuma maen-maen doang.”

“Harus dibuktikan? Oke…kapan kita bisa ngobrol empat mata di ruangan tertutup tanpa takut dilihat orang?”

“Di sini kan bisa ngobrol empat mata.”

“Cuma bisa ngobrol doang. Megang tangan gini juga sudah kuatir diliat orang.”

Mbak Mita tampak seperti memikirkan sesuatu. Entah apa yang dipikirkannya.

Sebenarnya aku sudah mendengar latar belakang Mbak Mita dari pengakuannya sendiri. Bahwa ia punya suami yang usianya 55 tahun, sementara Mbak Mita sendiri baru 30 tahun. Perkawinan dengan beda usia sejauh itu, pasti ada masalah. Tapi Mbak Mita tak pernah terang-terangan menjelaskannya.

Dari caranya tersenyum atau memandangku, aku sudah merasa bahwa sebenarnya dia suka padaku, tapi tidak berani terang-terangan mengatakannya.

Selesai makan, kami masih nongkrong di rumah makan itu.

“Hari Minggu bisa ke luar?” tanyaku.

“Bisa aja. Emang mau ngajak ke mana?”

“Ke ruangan tertutup itu. Mbak ngerti kan?”

“Iya. Bilang aja ke dalam kamar yang tertutup dan terkunci gitu.”

“Nah itu maksudku Mbak. Biar Mbak tau bahwa aku suka Mbak. Suka sekali.”

Tampak sikap Mbak Mita semakin cair.

Bahkan pada suatu pagi, ketika Mbak Rini pergi ke luar kota, kantor poun masih sepi, hanya Mbak Mita yang sudah datang…

Barangkali inilah saatnya untuk membungkam mulutnya agar jangan menyebarkan rahasiaku. Aku harus membungkam mulutnya dengan caraku sendiri.

Aku melangkah ke belakang kursi Mbak Mita. Dari situlah kusergap lehernya dengan pelukan dari belakang.

Terasa dia mengejut. Tapi tidak menepiskan pelukanku. Bahkan memegang tanganku dengan telapak tangan yang terasa hangat.

Gilanya, nafsuku mulai bangkit. Bukan lagi melakukan cara untuk membungkam mulut Mbak Mita. Dan kurayapkan tanganku ke balik blousenya, kupaksakan masuk juga ke balik behanya. Maaak ! Ternyata buah dada Mbak Mita bukan cuma montok tapi juga masih terasa kencang !

Dan Mbak Mita diam saja. Sehingga aku makin berani. Kuangkat badannya agar berdiri. Dan setelah berdiri berhadapan, kuciumi bibir Mbak Mita dengan lahapnya.

Terasa benar ia menyambut semuanya ini dengan kehangatan dan kepasrahannya.

Aku mendorong Mbak Mita ke ruang kerja Mbak Rini. Kebetulan Mbak Rini sedang di luar kota. Aku jadi merasa punya tempat nyaman untuk melakukan yang lebih jauh. Tapi aku hanya sempat menggerayangi pangkal pahanya. Dan sebelum berhasil menyentuh yang tersembunyi di balik celana dalam Mbak Mita, tiba-tiba kudengar bunyi langkah sepatu memasuki ruang kerja bagian administrasi itu. Terpaksa kubatalkan sambil berbisik, “Nanti kita cek in di hotel aja, biar aman.”

Mbak Mita yang sudah kujinakkan cuma mengangguk sambil melangkah ke luar.

Aku pun ke luar. Menghidupkan motor inventaris bimbel. Lalu bergerak ke jalan raya.

Tak sulit mencari hotel di kota ini. Kudapatkan hotel yang berada ddi pinggir jalan kecil, bukan di jalan ramai.Hotel itu masih baru, sehingga kulihat fasilitas di dalamnya serba baru dan kebersihannya pun terjamin. Langsung kubooking satu kamar untuk besok.

Lalu kembali ke kantor yang letaknya berdampingan dengan rumah Mbak Rini. Tadinya ingin bicara dengan Mbak Mita. Tapi sudah banyak pegawai yang hadir di ruang administrasi itu. Maka seperti beberapa hari sebelumnya, kuajak Mbak Mita makan siang di rumah makan di sebrang jalan.

Di rumah makan itu aku bisa menyampaikan rencanakui. Bahwa besok, yang kebetulan hari Minggu, aku mengajaknya ketemuan di hotel yang sudah kubooking tadi.

“Jadi, besok kita jangan bareng-bareng, biar jangan heboh,” kataku, “Aku nunggu di sana, pulangnya juga gak usah bareng.”

“Iya, bagusnya gitu,” kata Mbak Mita, “Harus rapi, karena aku kan punya suami.”

Aku tersenyum. Dan teringat lagi cerita tentang rumah tangga Mbak Mitha dengan suami yang lebih tua seperempat abad itu. Bahwa orang tuanya punya hutang yang cukup besar kepada lelaki tua itu. Dan orang tua Mbak Mita merasa tak mungkin bisa membayarnya lagi, karena usahanya mengalami kebangkrutan. Lalu tercapailah kesepakatan. Bahwa hutang orang tua Mbak Mita akan dianggap lunas kalau Mbak Mita bersedia diperistri oleh lelaki tua yang sudah lama ditinggal mati istrinya itu. Terdorong dari perasaan ingin menolong orang tuanya, Mbak Mita menerima syarat itu. Bahwa ia akan menjadi lelaki tua itu akan menjadi suaminya, sementara hutang yang jumlahnya besar itu pun dianggap lunas. Lalu setelah menjadi menjadi istri lelaki itu, apakah Mbak Mita merasa puas lahir batin? Mungkin point itulah yang sebenarnya yang membuat Mbak Mita sering menyesali keputusannya sendiri. Bahwa ia tak merasa puas baik lahir maupun batin. Kebutuhan material tak bisa terpenuhi, sehingga ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadinya. Kebutuhan batin apalagi. Suaminya makin lama makin loyo. Sehingga Mbak Mita merasa jadi wanita paling menderita di dunia ini. Namun setelah bekerja di bimbel Bu Rini, sedikitnya ia tidak terlalu bete, karena banyak teman yang bisa mengajaknya bercanda dan sebagainya.

Esok paginya, sebelum jam sepuluh aku sudah stand by di hotel itu, karena Mbak Mita berjanji akan datang sekitar jam sepuluhan.

Jam sepuluh lebih sedikit Mbak Mita sudah muncul. Dalam gaun terusan berwarna kuning muda bercorak bunga-bunga orange. Aku tertegun dibuatnya. Karena aku tak mungkin salah lihat. Mbak Mita tampak cantik sekali pagi ini. Hal itu kuucapkan secara lisan setelah berada di dalam kamar bernomor 35.

“Mbak kelihatan cantik sekali,” kataklu sambil memegang keduabahu wanita yang sembilan tahun lebih tua dariku itu.

Mbak Mita cuma tersenyum, sambil menatapku dengan mata bergoyang.

Aku pun menyergapnya dengan pelukan hangat dan kecup mesra di bibir tipisnya. Lalu kuraih lengannya, kuajak duduk di sofa, “Baru sekarang kita punya kesempatan berdua di dalam kamar tertutup gini ya?”

Mbak Mita menatapku, “Dik Niko gak nyadar-nyadar sih kalau aku sejak lihat udah merasa suka.”

“Mbak gak mau ngomong terang-terangan sih.”

“Aku kan perempuan, Dik.”

“Sudahlah, gak usah bahas yang lalu-lalu lagi. Sekarang Mbak mau diapain dulu?”

“Iiih…harusnya aku yang nanya, aku ini mau diapain sekarang?”

“Hahahaaa…Mbak Mita kalau udah balik-balikin omongan paling bisa,” ucapku sambil merayapkan tangan ke lutut Mbak Mita. Merayapkan terus ke pahanya yang terasa licin dan hangat.

Diperlakukan seperti itu, Mbak Mita malah merapatkan pipinya ke pipiku. Bahkan ketika tanganku menyelinap ke balik celana dalamnya, Mbak Mita mulai mencium dan melumat bibirku. Seakan ingin melengkapi rayapan tanganku dengan sesuatu yang sangat mendukung.

“Ntar…buka dulu gaunnya ya,” kata Mbak Mita ketika aku mulai asyik mempermainkan kemaluannya yang masih tersembunyi di balik celana dalamnya.

Aku mengangguk. Dan ketika Mbak Mita menanggalkan gaunnya, aku pun menanggalkan celana jeans dan baju kausku, kemudian menggantungkannya di samping gaun Mbak Mita.

Dan aku tertegun lagi setelah mengamati kemulusan tubuh Mbak Mita yang tinggal mengenakan bra dan celana dalam itu. Tubuhnya lebih bagus, lebih tinggi daripada tubuh Mbak Rini. Meski masih mengenakan bra, kulihat toket Mbak Mita lebih besar daripada Mbak Rini. Mungkin wajah Mbak Rini lebih cantik daripada Mbak Mita. Tapi kalau bicara soal bentuk tubuh dan kemulusannya, Mbak Mita menang.

“Aku makin sadar, tubuh Mbak begini mulusnya,” ucapku sambil mengelus-elus paha Mbak Mita yang sudah duduk bersila di atas tempat tidur.

Mbak Mita tampak bangga, “Belum lihat toket aku ya?” cetusnya sambil melepaskan kancing behanya, lalu menanggalkannya.

Sepasang payudara montok itu tak tertutup apa-apa lagi, seolah menantangku untuk menyentuhnya. Dan dengan nakalnya Mbak Mita memegang buah dada kirinya sambil mendekatkannya ke mukaku, “Nih…mau netek? Tetekku belum pernah nyusui bayi lho.”

Aku baru ingat salah satu cerita Mbak Mita, bahwa ia belum punya anak meski sudah bertahun-tahun menjadi istri lelaki tua itu.

Dengan sikap seperti anak kecil yang mau netek ke ibunya, ajku menggodanya, “Iya Mami…Iko mau nenen…”

Dan…gap aku memagut pentil payudara yang diangsurkan itu. Lalu menyedot-nyedotnya dengan lahap. Sementara tangan kananku menyelinap ke balik celana dalam Mbak Mita, karena tadi ada “action” yang belum tuntas.

Kusentuh rambut ikal pendek di balik celana dalam Mbak Mita. Dan tak sulit mencari celah mulut kemaluan wanita itu. Celah yang lalu kuelus dengan lembut. Tentu bagian terpekanya juga tak kulewatkan, bagian yang biasa kelentit…yangcuma sebesar biji kacang hijau, tapi paling penting di bagian vagina wanita (menurut ilmu seksuologi yang pernah kubaca).

Jari-jemariku memang sudah lumayan berpengalaman untuk merambah kemaluan wanita. Sehingga dalam tempo singkat saja Mbak Mita tampak sudah horny berat. Bahkan tangannya mulai menyelinap juga ke balik celana dalamku. Dan menyentuh batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini.

Seperti Mbak Rini waktu pertama kali menyentuh penisku, Mbak Mita juga memekik tertahan, “Dik Niko….! Pistolnya kok gede dan panjang gini? Emangnya Dik Niko ada turunan Arab?”

“Gak, aku asli Indonesia Mbak,” sahutku, “Lagian penis Arab dibilang panjang gede itu cuma mythos, Mbak. Zaman sekarang yang panjang gede itu malah penis negro.”

“Iiih…. kebayang enaknya penis sepanjang dan segede ini…pantesan Bu Rini…”

“…Jangan bahas dia terus Mbak,” kataku sambil menelungkupkan tanganku ke mulut Mbak Mita, “Sekarang kan yang sedang Mbak pegang ini akan kuberikan pada Mbak…”

Dengan tangan masih memegang batang kemaluanku, Mbak Mita menciumi bibirku. Lalu menanggalkan celana dalamnya. Kini sebentuk kemaluan wanita terbentang di hadapanku. Kemaluan dengan jembut yang sudah digunting rapi, sehingga tiada yang menjulur ke mulut kemaluannya.

Tanpa basa basi lagi, kusergap kemaluan Mbak Mita dengan bibir dan lidahku, sehingga wanita itu mulai meregang kejang dan sesekali menggeliat sambil meremas-remas rambutku.

Bibir dan lidahku sudah terlatih. Dan tahu persis apa yang harus kulakukan kalau sedang main jilat begini. Aku juga pernah membaca, bahwa cowok yang memiliki penis gede, cunnilingus (menjilati kemaluan wanita) ini penting, agar pada waktu penetrasi pihak wanitanya tidak kesakitan.

Mbak Mita mulai mendesah-desah seperti kepedasan. Terkadang tangannya menggapai-gapai, meremas-remas kainseprai sambil mengeluarkan rintihan dan rengekan histeris yang erotis.

Namun ketika aku merasakan lubang vagina Mbak Mita sudah basah, cepat kutanggalkan celana dalamku, lalu mengarahkan batang kemaluanku ke mulut vagina Mbak Mita. Dengan tangkas Mbak Mita pun menangkap batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini, lalu mengarahkannya dengan cermat, agar pas berada di depan “pintu gerbang” lorong surgawinya.

Setelah terasa ngepas, kudesakkan batang kemaluanku yang…mmmmm….meski seret, masuk juga sedikit demi sedikit di lubang kemaluan Mbak Mita yang ternyata masih kecil dan sempit ini.

“Duuuh….punya Dik Niko gede banget….susah masuknya ya?” ucap Mbak Mita setengah berbisik, “Nah…udah masuk Dik…iya….iya….ooooh…ini sih kayak penis kuda….xixixixi….enak Dik…terus masukin dikit-dikit…”

Sambil kugeser-geserkan sedikit demi sedikit, akhirnya terasa puncak penisku sudah mencapai ujung lorong surgawi Mbak Mita. Maka sambil menjatuhkan diri ke dada berpayudara montok itu, aku pun mulai menggeser-geserkan batang kemaluanku, bermaju-mundur di dalam liang kemaluan Mbak Mita.

“Ooooh…Dik Niko….punya Dik Niko panjang gede gini…kayaknyai….bakal bikin aku….ketagihan…” kata Mbak Mita dengan suara tersengal.

“Sama Mbak…aku juga bakal ketagihan neh…gak nyangka, punya Mbak enak banget….” sahutku dengan gerakan penis yang semakin kugencarkan. Stttt…josss…stttt…josss….stttt…jossss… stttt…jossss….

Tak cuma gerakan penis yang kulakukan. Mulutku juga mulai merambah leher Mbak Mita, menjilati leher yang harum parfum itu….lalu menjilati puting payudaranya yang juga tercium harum parfum, sementara tanganku juga melengkapinya dengan remasan di sana sini.

“Duuuh…Dik Nikooo….enak banget Diiik….duuuuh….bener-bener enak Diiik…” cetus Mbak Mita tak terkendalikan lagi, sementara kedua tangannya menggapai-gapai ke sana sini. Terkadang meremas kain seprai di kanan kirinya, terkadang meremas sepasang bahuku, terkadang juga meremas-remas rambutku.

Dan aku semakin ganas mengenjot batang kemaluanku sampai terasa sering menubruk ujung liang kemaluan Mbak Mita. Pada waktu ujung liang kemaluannya ditubruk oleh penisku, mata Mbak Mita terbeliak…lalu terpejam pada waktu penisku kutarik mundur lagi.

Terus terang, ini persetubuhan yang paling nikmat bagiku. Sehingga ketika Mbak Mita membisikiku “Aku udah mau lepas Dik”, aku pun merasa ejakulasiku sudah di ambang pintu.

“Boleh dilepas di dalam?” bisikku.

“Iya, gakpapa. Ayo kita lepasin bareng-bareng…biar enak…” kata Mbak Mita sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan binalnya.

Dan aku pun semakin ganas mengenjot batang kemaluanku. Lalu kami berdua takl ubahnya sepasang manusia yang sedang kesurupan. Sama-sama menggelepar sambil saling cengkram…seakan-akan ingin saling meremukkan badan pasangan kami.

“Dik Nikoooo…..” rintih Mbak Mita di puncak orgasmenya.

Disusul dengan desakan batang kemaluanku sedalam-dalamnya…..lalu aku mendengus ketika moncong penisku menembak-nembakkan air mani di dalam jepitan liang kemaluan Mbak Mita.

Oh nikmatnya, sungguh sulit kulukiskan dengan kata-kata. Tak kusangka aku akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dari tubuh Mbak Mita ini. Padahal tadinya aku cuma ingin menjalankan siasat saja, ingin membungkam mulut Mbak Mita dengan caraku sendiri.

Tapi merasakan enaknya menyetubuhi Mbak Mita, aku berpikir jangan-jangan aku akan ketagihan kelak.

Dan ketika aku sudah rebah di sisi Mbak Mita, justru ia yang mengutarakannya. Mengutarakan perasaan seperti yang tengah kurasakan, “Kalau besok-besok kepengen lagi sama Dik Niko gimana caranya?”

“Ya kita ketemuan di sini lagi aja,” sahutku.

Mbak Mita miring menghadap ke arahku. Mengelus dadaku sambil berucap, “Kasian ah sama Dik Niko. Ntar duitnya habis buat bayar hotel mulu.”

“Gaklah. Kalau cuma seminggu sekali, aku masih sanggup bayarin hotel ini. Lagian hotel ini gak mahal-mahal amat.”

Mbak Mita tersenyum. Menciumi pipiku dengan hangat. Sementara tangannya merayapi perutku, turun ke bawah…menggenggam penisku yang masih lemas. Lalu terasa penisku diremas-remas dengan lembut. Sehingga tombak pusakaku ini mulai membesar dan menegang. Makin lama makin tegang, sehingga akhirnya “siap tempur” lagi.

Mbak Mita tampak senang. Mungkin hal seperti ini takkan didapat dari suaminya yang sudah renta itu. Dan penuh semangat ia memasukkan batang kemaluanku ke liang vaginanya sambil meletakkan kedua lututnya di kanan kiri pinggulku. Lalu ia action dalam posisi WOT.

Rumah Mbak Rini yang berdampingan dengan kantor bimbel itu, seakan menjadi surga bagiku. Karena aku tak hanya mendapatkan kehangatan dari tubuh Mbak Rini, melainkan juga dari kepala bagian administrasi yang biasa kupanggil Mbak Mita itu.

Tapi pada suatu malam, ketika rumah Mbak Rini sudah sunyi, karena pegawai-pegawai tata usaha di sebelah sudah pada pulang, Mbak Rini menghampiriku di saat aku sedang nonton televisi di ruang tengah.

“Nggak ke luar, Nik?” tanya Mbak Rini sambil duduk di sampingku. Harum parfum Mbak Rini langsung tersiar ke penciumanku.

“Nggak Mbak.”

“Ada yang mau kuomongin…suatu hal yang penting banget, Nik.”

Aku menatap Mbak Rini dengan perasaan kuatir. Takut kalau ia sudah tahu hubungan rahasiaku dengan Mbak Mita, lalu ia akan mendakwaku.

“Niko mau kujodohin sama adikku? Besok pagi dia berangkat dari Malang menuju ke sini. Mungkin besok malam dia sudah tiba di sini.”

“Kok….??” aku ingin mengucapkan sesuatu tapi tersendat di tenggorokan.

“Aku serius Nik. Tapi hubungan rahasia kita tetap berjalan seperti biasa. Meskipun Niko sudah jadi suami adikku, bisa aja kita ketemuan secara rahasia.”

“Kok aneh…tiba-tiba Mbak mau menjodohkanku dengan adik Mbak? Lalu apa artinya hubungan kita selama ini?”

“Niko….semua ini sudah kupikirkan matang-matang. Perbedaan usia kita terlalu jauh. Aku sering mikir, kalau kita sama-sama berumur panjang, pada saat aku sudah jadi nenek-nenek, sementara kamu sedang-sedangnya membutuhkan wanita yang masih mampu melayanimu…sedangkan aku sudah terlalu tua….aaah…pokoknya hubungan kita jangan dilanjut ke pernikahan, Niko sayang. Tapi itu tidak berarti bahwa kamu tak bisa memiliki tubuhku lagi. Boleh Niko. Kapan pun kamu menginginkannya, aku siap untuk melayani kejantananmu. Tapi please….jangan berpikir untuk meresmikan hubungan kita ke jenjang perkawinan, sayang.”

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku dilanda perasaan sedih yang sulit kuungkapkan. Namun diam-diam aku berpikir dengan penuh prasangka. Bahwa belakangan ini Mbak Rini sering bepergian ke luar kota. Apakah ia mengurus bisnisnya atau bertemu dengan seorang lelaki idamannya?

“Mbak sudah ada janji dengan seseorang kan?” cetusku dengan perasaan cemburu.

“Kamu kayak paranormal aja, Nik,” Mbak Rini menepuk lututku, “Tapi…memang benar. Ada seorang duda tua yang ingin menikahiku. Umurnya sudah limapuluhan.”

Mendengar ucapan Mbak Rini itu, hampir saja aku keceplosan ngomong, dengan menceritakan perkawinan Mbak Mita yang punya suami sudah tua, lalu menyesalinya setelah perkawinan itu telanjur terjadi. Tapi…nanti malah jadi pertanyaan, kenapa aku bisa tahu seluk-beluk perkawinan Mbak Mita segala?

Karena itu aku diam saja. Berusaha jadi pendengar yang baik.

“Dia sangat lembut dan sangat mengerti keadaanku. Bahkan perusahaannya juga akan diserahkan padaku kalau aku sudah jadi istrinya kelak,” kata Mbak Rini lagi.

O, jadi masalah materi yang membuat Mbak Rini tergiur untuk mengikuti ajakan lelaki itu? Tapi biarlah. Aku akan berusaha untuk menganggap semuanya ini memang sudah takdirku. Meski hatiku tidak rela, aku harus bersikap seakan-akan tiada masalah kalau Mbak Rini mau menikah dengan orang lain.

Tiba-tiba MbakRini memelukku sambil berkata dengan suara sendu, “Ayo…sekarang bobo di kamarku aja yok….mumpung kita masih bebas melakukannya…”

Ada kegeraman yang kusembunyikan waktu mengikuti langkah Mbak Rini menuju kamarnya. Tapi sebagai cowok normal, di usia yang masih sangat muda pula, aku langsung tergiur ketika Mbak Rini sudah melepaskan gaun tidurnya, sehingga tinggal celana dalamnya yang masih melekat di tubuhnya. Memang belakangan ini aku tahu bahwa Mbak Rini tak pernah mengenakan bra kalau mau tidur.

“Ayo…kan biasanya kamu yang bukain celana dalamku,” kata Mbak Rini sambil berdiri di depanku, “Atau sekarang sudah gak mau lagi?”

Meski pikiranku sedang galau, aku masih punya nafsu melihat Mbak Rini yang seolah sudah menantang kejantananku. Akupun lalu berlutut di dekat kaki Mbak Rini, sambil menarik celana dalamnya tanpa terburu-buru. Sedikit demi sedikit tampak jembut Mbak Rini yang lebat itu…makin lama makin terbuka…dan akhirnya kemaluan Mbak Rini tampak sepenuhn ya di depan mataku…mata yang cuma beberapa sentimeter jaraknya dari kemaluan berjembut lebat itu.

Anehnya saat itu aku ingin membuat Mbak Rini sepuas mungkin menghadapi kejantananku. Aku ingin menggaulinya seganas mungkin, sampai dia keletihan lalu minta ampun. Entahlah, saat itu aku seolah ingin menghabisi Mbak Rini sampai tidak bisa lagi mel;ayani lelaki lain.

Setelah menjilati kemaluan Mbak Rini yang berjembut tebal itu, aku pun mulai melampiaskan nafsuku, membenamkan batang kemaluanku ke dalam liang meqi Mbak Rini yang sudah membasah itu.

“Aaaaah…jangan disekaliin gitu, sayang…sakiit…” keluh Mbak Rini setelah penisku sengaja kuamblaskan sepenuhnya di dalam liang kewanitaan Mbak Rini.

Aku bersikap seperti tuli. Aku cuma peduli pada gerakan batang kemaluanku yang dengan cepat dan garang mengayun seolah memompa liang kewanitaan Mbak Rini. Gerakan batang kemaluanku cukup cepat, seolah berpacu dengan waktu. Sehingga Mbak Rini sering terdengar merintih-rintih, entah kesakitan atau keenakan.

Tapi aku tak peduli apa-apa lagi. Aku hanya ingin memperlihatkan kepada Mbak Rini, bahwa aku ini seorang cowok jantan dan tangguh. Maka kuhajar terus meqi Mbak Rini dengan enjotan penisku, yang anehnya…jadi tangguh sekali !

Sudah lewat sejam aku mengayun batang kemaluanku, tanpa terasa gejala-gejala mau ngecrot. Padahal Mbak Rini sudah beberapa kali menyatakan sudah mencapai orgasme.

ENtahlah, aku seolah berubah menjadi cowok yang garang sekali. Pada waktu meremas payudara Mbak Rini pun berkali-kali mantan guruku itu complain, minta agar remasanku jangan terlalu kuat. Tapi aku hanya menjawab, “Lagi gemes banget, Mbak. Gemesss….”

Setelah semuanya selesai, Mbak Rini menatapku dengan berlinang-linang air mata, “Kenapa tadi lain dari biasanya?” tanyanya sambil memelukku.

“Gak tau Mbak,” sahutku lesu, “Mungkin karena hatiku sedang galau aja.”

Mbak Rini mewmbelai rambutku. Berkata dengan lembut, “Niko sayang…jangan galau dong. Kan kita tetap bisa ketemuan secara rahasia kapan pun kamu mau.”

“Entahlah Mbak…rasanya hatiku sudah telanjur Mbak miliki. Rasanya aku ingin memiliki Mbak seutuhnya.”

“Kamu belum lihat aja adikku itu seperti apa. Coba besok malam kamu lihat dan buktikan. Adikku itu cantik, sayang.”

“Tapi bukan jalan itu yang kuinginkan Mbak…aaah…sudahlah…mending aku nyari minuman….lalu mabok dan ambruk di tengah jalan…”

“Nikooo….!”

Cerita Petualangan Seks – Bagian III

Pagi itu Mbak Rini memperkenalkan adiknya yang baru datang dari Malang. Waktu kujabat tangan cewek yang kutaksir berumur duapuluh tahunan itu, kudengar ia memperkenalkan namanya, “Anina…”

Aku pun memperkenalkan namaku, “Niko…”

Mbak Rini pun berkata padaku, “Aku anak sulung, sedangkan Anina ini anak bungsu. Makanya perbedaan usia di antara kami cukup jauh.”

Kemudian Mbak Rini berkata, “Nah sekarang ajak dia putar-putar sana, Nik. Dia baru sekali ini menginjak Bandung.”

Meski malas, aku berusaha untuk tidak terlalu ekstrim menolak anjuran Mbak Rini. Tanyaku, “Putar-putar ke mana Mbak?”

“Kamu tentu lebih tau, Nik. Carilah tempat yang biasa dipakai oleh anak muda, yang sesuai dengan usia kalian,” kata Mbak Rini sambil menyerahkan kunci mobilnya.

“Iya,” aku mengangguk sambil mencabut kunci mobil itu, “Mau ganti baju dulu?” tanyaku kepada cewek berperawakan tinggi semampai berkulit putih cemerlang itu.

“Iya,” Anina mengangguk. Lalu bergegas masuk ke kamar Mbak RIni.

Mbak Rini menghampiriku sambil berkata setengah berbisik, “Niko harus nurut ya. Supaya kita sama-sama tenang. Dia sudah langsung setuju dijodohin sama Niko.”

Aku tidak menjawabnya. Tapi hatiku berkata, “Biarlah sementara ini kuikuti keinginannya. Kalau terasa gak nyaman, minggat aja…ngapain juga aku bertahan di sini kalau suasananya gak nyaman lagi? Tapi…Anina itu…memang cantik ! Kenapa aku tidak mau mengikuti saran dari orang yang lebih tua? Salahkah kalau aku membuat Anina sebagai tempat pelarian?”

Barangkali aku harus bisa berpikir dengan otak yang dewasa dan jernih. Mungkin Mbak Rini takut pada suatu saat aku meninggalkannya begitu saja. Lalu ia sodorkan adik bungsunya itu.

Entahlah. Yang pasti, beberapa saat kemudian aku sudah berada di belakang setir sedan kepunyaan Mbak Rini. Dan Anina duduk di sampingku, dalam gaun terusan berwarna deep brown yang terbuat dari bahan corduroy. Cantik memang adik bungsu Mbak Rini itu. Lalu kenapa aku masih cuek-cuekan saja?

“Aku harus manggil apa neh?” tanyaku waktu sedan Mbak Rini sudah kukemudikan di jalan ramai.

“Panggil Ani boleh, panggil Nina boleh,” sahutnya, “Tapi teman-teman pada manggil Nina sih.”

Aku cuma mengangguk-angguk. Entah kenapa, aku memasukkan mobil Mbak Rini itu ke pintu tol. Lalu dengan kecepatan di antara 80 km – 100 km perjam. Ini kecepatan yang kurang greng, karena biasanya aku suka memacu kecepatan di atas 120km/jam kalau sudah berada di jalan tol.

Aku berpikir untuk menuju Jatinangor. Karena itu aku bermaksud keluar dari pintu tol Cileunyi nanti.

“Sebenarnya apa yang sudah dibicarakan oleh Mbak Rini dengan Nina?” tanyaku pada saat masih berada di jalan tol.

“Mmm…ya gitu deh. Mbak anjurin untuk menerima Mas Niko sebagai calon.”

“Ohya? Lalu gimana Nina menanggapinya?”

“Aku sih oke-oke aja, asal Mas Niko mau menerimaku apa adanya.”

Ucapan Anina menimbulkan tanda tanya besar. Apa yang ia maksud dengan “apa adanya”? Hmm…pasti ada sesuatu…hmm…mungkin karena ia sudah tidak perawan lagi, atau ada masalah lain? Bukanklah ia cukup cantik? Kenapa ia harus mengatakan apa adanya?

“Menerima apa adanya? Maksudnya?”

“Aku kan cuma tamat SMA, Mas. Tamatan SMA zaman saiki paling juga iso dadi pelayan toko,” sahutnya dicampur bahasa Jawa.

“Kan kalau sudah nikah, yang penting jadi ibu rumah tangga sejati.”

Anina tidak menjawab. Aku malah semakin bertanya-tanya. Karena itu setelah berada di daerah Jatinangor, aku cuma mampir di sebuah minimart. Kubelikan beberapa kantong cemilan, juga rokok, sabun cair dan handuk. Kemudian aku jalankan terus mobil Mbak Rini ini ke arah Sumedang. Bahkan setelah melewati Sumedang, mobil yang kukemudikan ini masih kularikan ke arah luar kota. Beberapa saat kemudian, aku membelokkan mobil ke kiri.

Anina tak pernah bertanya mau dibawa ke mana dirinya saat itu. Namun karena suasana di jalan makin lama makin sepi, ia bertanya juga, “Mau ke mana kita Mas?”

“Ke daerah wisata yang belum banyak dikunjungi wisatawan. Jadi keadaannya masih asli,” sahutku.

Di daerah Conggeang, kubelokkan mobil ke tempat parkir pemandian air panas. “Yok, turun,” ajakku sambil mengeluarkan handuk dan sabun cair dari kantong plastik.

Kamar mandi air panas mineral itu hanya ditunggu oleh seorang wanita tua. Memang sepertinya belum dikelola secara profesional. Tapi terasa masih serba alamiah. Justru itu yang kusukai.

Waktu diajak masuk ke kamar mandi air panas itu, Anina lugu saja, ikut masuk ke dalam. Anina memandang ke bak mandi yang cukup besar, jauh lebih besar daripada bak mandi di pemandian air panas lainnya.

“Lho…kita mau mandi di kolam itu?” cetus Anina tampak heran.

“Iya. Air panas mineral seperti ini kan bagus buat kulit. Jadi kita bisa mandi sambil therapy,” sahutku sambil menanggalkan celana jeans dan baju kausku.

“Tapi…aku gak bawa pakaian renang Mas,” kata Anina sambil memandang ke arah celana dalamku sebagai satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuhku.

“Alaaa…seadanya aja,” kataku sambil membantu Aniona melepaskan kancing gaun yang terpasang di punggungnya, “telanjang juga gakpapa. Kita kan sudah dijodohkan.”

Anina menatapku dengan senyum. Maaak….ternyata manis sekali Anina kalau sedang tersenyum seperti itu !

Makin kuperhatikan, sosok Anina terasa makin menarik. Terlebih setelah gaunnya kutanggalkan. Dalam keadaan cuma mengenakan bra dan celana dalam, tubuhnya yang tinggi semampai dan mulus itu semakin terasa menggiurkan. Kenapa aku harus menolak “kebaikan” Mbak Rini yang berkeras ingin menjodohkanku dengan cewek jelita ini?

“Kalau pakai celana dalam, nanti basah kuyup, lantas pulangnya harus dilepas. Emang mau pulang tanpa celana dalam?” bisikku sambil memeluknya dari belakang. Begitu cepat prosesnya. Baru kenal beberapa jam sudah main peluk segala. Dan tiada penolakan dari Anina.

Semua proses yang terjadi ini, jauh lebih cepat daripada proses dengan Mbak Rini maupun Mbak Mita !

“Mas sendiri mau mandi pakai celana dalam?” tanya Anina canggung, meski diam-diam ia melepaskan kancing kait branya.

“Iya. Mungkin kita sudah ditakdirkan seperti ini,” sahutku sambil memegang bagian berkaret di celana dalam Anina. Menunggu reaksinya sesaat. Karena ia tidak bereaksi, lalu kuturunkan celana dalam itu dengan hati-hati sampai terlepas dari kakinya. Ia menutupi kemaluannya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya dipakai untuk menutupi payudaranya. Sangat wajar ia melakukan semuanya itu.

Kutanggalkan juga celana dalamku, lalu mengumpulkan pakaian yang berserakan di lantai kamar mandi yang pintunya telah tertutup dan terkunci ini. Lalu kuraih pergelangan tangan Anina untuk masuk ke dalam air hangat di bak mandi yang lebih tepat disebut kolam kecil itu. Byurrrr….byurrrr…..

Kolam berdinding keramik murahan ini baru diisi sedikit. Kalau kami duduk, air panasnya hanya merendam sampai dada. Tapi airnya masih mengalir dan makin lama akan semakin tinggi permukaannya.

“Anggap aja kita sedang berbulan madu di sini,” kataku sambil memeluk Anina dari belakang. Anina diam saja. Bahkan ketika tanganku merayap ke arah payudaranya, ia masih diam juga. Dan…hmm…aku menyentuh payudara yang masih kencang sekali….dan waktu kukecupi tengkuknya, juga Anina masih diam saja.

Makin lama genangan air panas di bak luas ini makin tinggi. Kalau kami berdiri, sudah mencapai perut. Aku pun mengambil botol sabun cairku yang terletak di lantai yang berbatasan dengan bak luas ini.

Aku sabuni tubuhku dulu. Kemudian kusabuni tubuh Anina dengan gairah yang semakin menggodaku, sehingga penisku mulai ngaceng berat. Tapi tidak terlihat oleh Anina, karena penisku berada di dalam rendaman air hangat. Anina malah tampak senang ketika aku menyabuni punggungnya. Lalu kubalikkan badannya, agar menghadap padaku, kusabuni payudaranya….ia cuma menatapku…padahal terasa penisku mulai bersentuhan dengan kemaluannya.

Aku semakin penasaran. Karena tujuan utamaku adalah ingin membuktikan sesuatu. Maka aku pun mulai menyabuni kemaluan Anina yang berbulu tipis ini. Anina malah memelukku, karena aku telah menyelinapkan jemariku ke celah kemaluannya. Dan aku langsung yakin, bahwa Anina sudah tidak perawan lagi !

Tapi aku pura-pura tak tahu. Dan memang ketika batinku sudah dikuasai nafsu begini, aku tak pedulikan apa-apa lagi. Hatiku malah berkata, perawan atau tidak perawan, yang penting enjoy aja…!

“Di kompleks pemandian ini ada hotel kecil,” bisikku, “nanti kita cek in aja ya.”

Anina menatapku, lalu menyahut, “Terserah Mas aja…”

Dalam jarak yang sangat dekat ini, bibir Anina tampak menantang. Dan aku mulai sering mengecupnya. Namun jemariku makin kerasan menggerayangi kemaluan Anina.

Meski tak diucapkan, kulihat Anina sudah horny juga. Tapi aku tak mau melakukannya di kamar mandi ini. Karena di depan kamar mandi ini ada tulisan peringatan, Jangan berada di dalam kamar mandi lebih dari 15 menit. Berbahaya bagi Anda.

Maka setelah merasa puas berendam ria di bak air panas mineral ini, aku mengajak Anina naik ke lantai keramik berwarna biru itu.

“Pacarannya kita lanjutkan di hotel aja ya,” bisikku yang ditanggapi dengan senyum manis Anina.

Beberapa saat kemudian, kami sudah masuk ke dalam kamar di hotel murah meriah itu.

Tak sulit untuk melanjutkan perilaku di dalam kamar mandi tadi. Begitu masuk ke dalam kamar, kulepaskan pakaian Anina sehelai demi sehelai. Sampai telanjang full. Rasanya semua ini terlalu mudah bagiku.

Namun ketika melihat Anina yang sudah rebah di atas tempat tidur, payudaranya yang masih mancung dan kemaluannya yang berbulu tipis itu, tak kuasa lagi aku menahan nafsuku. Dan aku merentangkan sepasang paha Anina, memperhatikannya sejenak, lalu kuambil kesimpulan….ia memang tak perawan lagi. Pantaslah semuanya ini serba mudah.

Tanpa basa-basi lagi aku merayap ke antara kedua kaki Anina, lalu menciumi betisnya, naik ke lututnya, naik lagi ke pahanya…semuanya serba mulus. Dan ketika aku mulai menjilati kemaluannya, ia mulai mengejang-ngejang sambil mengelus rambutku yang berada di bawah perutnya.

Desah-desah perlahannya pun mulai terdengar. Namun aku tak mau berlama-lama mengoralnya. Lalu aku beranjak ke atas perutnya, sambil mengarahkan penisku yang sudah ngaceng berat ini, tepat merapat ke mulut kemaluan berbulu tipis itu.

Anina tampak pasrah saja. Bahkan ketika aku sudah berhasil membenamkan batang kemaluanku ke lubang meqinya yang sudah basah dan licin, ia cuma bereaksi dengan mendekap pinggangku.

Untuk yang kesekian kalinya aku bertualang lagi di atas perut perempuan. Dan saat persetubuhanku dengan Anina masih berlangsung, aku semakin yakin bahwa ia datang ke kotaku dalam keadaan yang tidak perawan lagi.

Namun aku tak mau memikirkan itu. Aku ingin menikmati dulu persetubuhanku dengan Anina ini. Anina yang harus kuakui jauh lebih segar baik bila kubandingkan dengan Mbak Rini maupun dengan Mbak Mita.

Tapi untuk yang pertama ini aku tak mau berlama-lama menyetubuhi Anina. Belasan menit kemudian kucabut penisku dan kuhamburkan air maniku di atas perut Anina.

Aku terkapar di samping Anina. sambil memikirkan kata-kata yang tidak akan menyinggung perasaan cewek tinggi semampai itu.

Lalu kataku, “Sudah pernah ya?”

Anina terduduk bersila, “Iya Mas,” sahutnya sambil menundukkan kepala, “Beginilah keadaanku.”

Lalu, tanpa diotanya pun Anina menceritakan masa lalunya. Bahwa ia pernah berpacaran dengan seorang mahasiswa yang sudah semester akhir. Demikian dekatnya hubungan di antara Anina dengan cowok itu, sehingga pada suatu hari mereka kebablasan. Pada hari-hari berikutnya, Anina mengakui bahwa ia sering melakukan hubungan sex dengan cowok itu, karena ia percaya pada janji cowok itu.

“Dia berjanji mau menikahi aku setelah diwisuda. Tapi begitulah…seminggu setelah diwisuda, dia menghilang entah ke mana. Kata teman-temannya sih dia pulang ke kampungnya di …yah…pokoknya di sebrang lautan, Mas,” kata Anita di akhir penuturannya.

“Hanya itu yang terjadi di masa lalu Nina? Maksudku…apa gak ada cowok lain lagi?” tanyaku dengan pandangan menyelidik.

“Gak ada Mas. Setelah dikecewakan oleh cowok itu, aku mengurung diri terus di rumah. Bergaul pun sudah gak mau. Makanya Mbak Rini cemas…lalu membawaku ke Bandung.”

Aku berpikir beberapa saat. Lalu kupeluk pinggang Anina yang masih telanjang, “Asalkan kamu siap untuk menjadi istri yang setia dan mengabdi kepada suami, aku siap menikahimu, Nin.”

Anina menatapku dengan sorot berharap, “Betul Mas? Mas mau menikahiku yang sudah jadi sampah ini?”

“Kamu cuma jadi korban…korban cowok yang tidak bertanggung jawab. Aku takkan menganggapmu sampah.”

“Oh Mas…” Anina memelukku, menciumi pipiku, mungkin sebagai manifestasi kegembiraannya, “Aku akan mencintai Mas sepanjang hidupku, asalkan Mas jangan menyia-nyiakanku.”

Aku merasa tidak perlu menyetubuhi Anina lag. Karena aku jadi merasa harus mulai menjaganya, tak perlu habis-habisan seperti dengan Mbak Rini dan Mbak Mita. Karena itu aku mengajaknya pulang. Pesanku di jalan pulang, “Nanti ceritakan saja kepada Mbak Rini. Bahwa aku siap menikah denganmu. Tapi…terus terang…aku ini orang yang tak punya apa-apa. Orang tuaku juga takkan sanggup membiayai pernikahan kita kalau harus pesta gede-gedean. Menurutku, kita langsungkan pernikahan yang simple aja. Yang penting kita sah sebagai suami istri.”

“Iya Mas,” sahut Anina sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.

Beberapa hari kemudian, Mbak Rini mengajakku ke sebuah kompleks perumahan, aku tak menyangka sedikit pun bahwa ia menyiapkan kejutan untukku. Di depan sebuah rumah type 54, Mbak Rini memintaku menghentikan mobilnya. Lalu mengajakku turun.

Ternyata Mbak Rini membawa kunci rumah itu. Setelah berada di dalam, Mbak Rini berkata, “Rumah ini kubeli cash dari seorang dokter yang akan pindah ke luar Jawa.”

Kuamati keadaan di dalam rumah itu. Furniturenya sudah lengkap. Bahkan pesawat televisi, kulkas dan sebagainya sudah ada, meski bukan barang-barang baru tapi kelihatan bukan barang-barang pasaran. “Perabotannya juga dibeli dari dokter itu?” tanyaku.

“Iya,” Mbak Rini mengangguk, ” Dokter itu tak mau ribet. Rumah ini dijual beserta semua perabotannya.”

“Terus…rumah ini mau dijadikan apa? Mau dikontrakkan, Mbak?”

“Untuk tempat tinggalmu kalau sudah menikah dengan Nina,” kata Mbak Rini sambil memegang pergelangan tanganku, “Semuanya sudah dipermudah kan?”

Aku cuma terlongong mendengar kejutan itu.

“Kalau kamu sudah menikah dengan Nina, sementara aku juga sudah menikah, hubungan kita tetap berlanjut, sayang. Tapi semuanya harus berjalan secara rahasia, jangan sampai Nina dan suamiku tahu.”

Aku masih tetap terlongong. Membayangkan pernikahanku dengan Anina di usiaku yang baru 21 tahun ini. Sungguh sulit membayangkannya. Terlebih kalau mengingat biayanya. Dari mana aku bisa menyiapkan biaya pernikahan?

Tapi Mbak Rini seolah mengerti apa yang kupikirkan. Ia berkata lagi, “Jangan pikirkan soal biayanya…semuanya aku yang nanggung. Kamu cukup menyediakan maskawin saja. Gak usah gede-gede…semampumu aja, Nik. Jadi orang tuamu gak usah dilibatkan dalam soal biaya. Yang penting mereka hadir saja di hari pernikahanmu dengan Anina nanti.”

Aku tak tau lagi harus bicara apa. Yang jelas, sebulan kemudian aku diresmikan menjadi suami Anina. Resepsinya dilaksanakan di convention hall sebuah mall. Tak banyak teman-temanku yang diundang, hanya yang dekat saja hubungannya denganku.

Kira-kira setahun setelah menikah dengan Anina, lahirlah anak pertamaku. Bayi perempuan yang mungil dan lucu, yang lalu kuberi nama Alit Nikarati.

Di usia 22 tahun aku sudah menjadi seorang ayah. Hahahahaaaaaaaaa…….!

Distibutor Vimax Extender

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*